Masinton: Parpol Baru Sulit Taklukkan yang Lama

Masinton: Parpol Baru Sulit Taklukkan yang Lama
Ketua Umum Partai Idaman (Islam Damai Aman) Rhoma Irama (tengah) menyampaikan pidato saat deklarasi Partai Idaman di Jakarta, 11 Juli 2015. ( Foto: Antara/Reno Esnir )
Markus Junianto Sihaloho Selasa, 14 Juli 2015 | 15:34 WIB

Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Masinton Pasaribu, menyatakan pihaknya menghargai niatan berdirinya sejumlah partai politik (parpol) baru. Namun, diyakini pentas politik nasional akan makin sulit untuk ditaklukkan oleh parpol baru.

Menurut Masinton, adalah hak setiap warga negara untuk berhimpun dan berserikat, termasuk membentuk partai politik. Masalahnya, parpol baru yang dibentuk harus mengikuti persyaratan ketat sesuai UU tentang Partai Politik.

Untuk parpol baru, lanjutnya, maka harus mengikuti verifikasi partai politik sebagai badan hukum oleh Kementerian Hukum dan HAM. Kemudian apabila lolos verifikasi sebagai badan hukum, maka akan dilakukan verifikasi ulang sebagai peserta pemilu oleh KPU.

"Lolos sebagai partai politik yang berbadan hukum belum tentu lolos sebagai peserta pemilu," kata Masinton, Selasa (14/7).

Tiga partai baru yang mulai bermunculan adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin mantan presenter Grace Natalie dan aktivis muda Muhammadiyah Raja Juli Antoni, Partai Perindo yang digawangi pengusaha Hari Tanoesoedibjo, serta Partai Idaman bentukan raja dangdut Rhoma Irama.

"PDIP tak khawatir dengan mereka. Toh banyak parpol baru itu tak semuanya bisa mulus memperoleh dukungan masyarakat. Kadang parpol baru untuk memperjuangkan lolos administrasi pemilu saja susah. Karena syarat administrasinya memang sudah sulit. Boro-boro dukungan masyarakat, dukungan kepengurusan saja juga belum tentu lengkap," bebernya lagi.

Selain itu, kesulitan lainnya adalah menarik segmen masyarakat yang ditarget untuk bergabung. Ketiga parpol yang baru, menurut Masinton, pasti sudah membidik segmen konstituennya masing-masing.

Masalahnya, sejauh ini, menurut Masinton, tak satupun di antara ketiganya menawarkan sesuatu yang beda dibanding parpol yang sudah ada.

"Yang menilai parpol bagus atau tidak kan masyarakat. Akan dilihat apa idenya. Nah mereka belum jelas apa idenya, apa yang mereka mau tawarkan? Takkan mudah. Apalagi kalau parpol sudah membatasi dirinya dari partisipasi publik," jelas Masinton.

"Saya tak yakin parpol baru yang mencoba eksklusif akan mendapat dukungan rakyat. Wong partai seperti PKS dan PAN saja sekarang membuka dirinya kepada masyarakat lebih luas," ungkap dia lagi.

Bagi Masinton, tidak mudah meraih dukungan masyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia itu memang memiliki karakter lebih sulit diyakinkan dari segi ide dan yang lainnya.