Gubernur Sulsel: Rahman Arge Perlihatkan Ketinggian Budaya Bugis-Makassar

Gubernur Sulsel: Rahman Arge Perlihatkan Ketinggian Budaya Bugis-Makassar
Rahman Arge ( Foto: www.bintang.com )
Senin, 10 Agustus 2015 | 22:12 WIB

Makassar - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan almarhum Budayawan Rahman Arge memperlihatkan ketinggian budaya Bugis-Makassar yang diungkapkan baik melalui lisan maupun tulisan.

"Beliau adalah sosok sempurna yang mewakili karakter orang Bugis-Makassar," kata Syahrul seusai melayat ke rumah duka kediaman Almarhum Rahman Arge di Jalan Ade Irma Blok D8, Makassar, Senin (10/8).

Rahman Arge adalah sosok budayawan, politisi, dan tokoh pers Sulsel, tokoh pers nasional, penasehat PWI Pusat yang tutup usia pada Senin, pukul 10.00 WITA di kediamannya.

Gubernur bahkan mengatakan saat ini ia tengah mencari karya Rahman Arge yakni sebuah tulisan berjudul Mate Disantangngi.

"Kalimat itu memiliki arti cukup dalam, artinya, seseorang, khususnya laki-laki, harus mati dengan harga dirinya. Mate Disantangngi itu ciri orang Sulsel. Kita harus mati secara terhormat," jelas Gubernur.

Sebelumnya, Wakil Presiden HM Jusuf Kalla juga menyampaikan rasa duka mendalam dan turut berbelasungkawa atas Rahman Arge di Makassar.

"Inna lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun, selamat jalan om Arge, kami ucapkan selamat jalan, engkau menancapkan kejayaan kesenimanan Bugis-Makassar pada puncak-puncak kebudayaan nasional," kata JK seperti di sampaikan Juru Bicara Wapres Husain Abdullah.

Ketua Dewan Masjid Indonesia sangat kehilangan sosok seniman dan budayawan asal Sulsel yang dianggap telah memberikan sumbangsih pikiran yang sangat luar biasa bagi kebudayaan tidak hanya di Makassar, tetapi skala nasional.

"Karyamu akan dikenang zaman sedangkan namamu iTolo menjadi legenda, semangatmu akan terawat oleh generasi penggantimu. Semoga khusnul khotimah, Al Fatihah," tulis JK dalam pesannya.

Menurut anak keempat almarhum, Upika, Rahman yang meninggal pada usia 80 tahun tersebut selama beberapa bulan terakhir mengalami komplikasi beberapa penyakit.

"Bapak memang sudah lama sakit, dia stroke dan prostat," kata Upika yang ditemui di rumah duka.

Kondisi almarhum memburuk sejak serangan stroke kedua yang terjadi April lalu.

"Waktu kena stroke kedua bapak sempat dirawat sebulan di rumah sakit, keluar dari rumah sakit beliau sudah tidak bisa apa-apa lagi, harus bed rest," terangnya.

Dua minggu terakhir, kata dia, almarhum sudah tidak bisa menerima makanan dan minuman, namun pagi menjelang ajalnya, beliau masih sempat makan empat sendok.

Upika mengenang Almarhum sebagai sosok yang tegas namun penyayang keluarga.

"Beliau selalu berpesan agar kami anak-anaknya bekerja keras, pantang mundur, dan saling menjaga," tutup Upika.

Sumber: Antara