Presiden: Kekayaan Sumber Daya Alam Buat Rakyat Terlena

Presiden: Kekayaan Sumber Daya Alam Buat Rakyat Terlena
Presiden Joko Widodo ( Foto: AFP Photo/Yoshikazu Tsuno )
Novy Lumanauw / FAB Senin, 26 Oktober 2015 | 13:16 WIB

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kekayaan sumber daya alam yang terkandung di perut bumi Indonesia membuat bangsa ini terlena.

Di hadapan sekitar 1.250 masyarakat Indonesia yang hadir di Wisma Wilden, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada Minggu (24/10) waktu setempat, Presiden Jokowi menyatakan, saatnya negeri ini bangkit.

“Kalau ini diteruskan lagi, ya habislah kita. Tumpuan pada sumber alam itu terus menerus menjadikan kita lupa, kita terlena, kita tidak menyiapkan industri, tidak menyiapkan investasinya, dan tidak menyiapkan hilirisasinya,” kata Presiden Jokowi.

Seperti dilansir laman resmi Sekretariat Kabinet, Presiden Jokowi menyatakan, negeri berpenduduk 250 juta jiwa ini pernah mengalami tiga kali booming, tetapi bangsa ini lupa untuk memanfaatkan. Ketika booming minyak, seharusnya bangsa ini telah mempersiapkan pondasi yang kokoh, agar ekonominya dapat melambung tinggi.

Padahal, pada era 70-80-an, negeri ini bergelimang minyak mentah. Selanjutnya, pada era 80-an ketika terjadi booming kayu, negeri ini juga gagal memanfaatkan momentum itu. “Kayunya habis, hutannya habis. Kita tidak mendapatkan manfaat dari situ,” katanya.

Selanjutnya, kata Presiden Jokowi, negeri ini juga nyaris gagal memanfaatkan kekayaannya saat terjadi booming mineral dan batubara (minerba).

“Itulah kesalahan. Menurut saya, kesalahan besar kita. Ini yang sekarang mulai akan kita kerjakan, sudah mulai sebagian kita kerjakan, dan mungkin akan mulai kelihatan pada tahun-tahun ketiga,” kata Presiden Jokowi.

Mendampingi Presiden Jokowi pada pertemuan itu, di antaranya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.

Sumber: Investor Daily