Film Dokumenter "Tanah Mama" Ditarik dari Festival Melanesia di Kupang
INDEX

BISNIS-27 545.471 (-7.6)   |   COMPOSITE 6413.89 (-106.77)   |   DBX 1221.71 (-6.51)   |   I-GRADE 188.988 (-3.35)   |   IDX30 542.994 (-9.18)   |   IDX80 145.925 (-3.17)   |   IDXBUMN20 438.706 (-13.3)   |   IDXESGL 150.111 (-3.04)   |   IDXG30 148.081 (-3.15)   |   IDXHIDIV20 477.43 (-7.88)   |   IDXQ30 153.853 (-2.35)   |   IDXSMC-COM 293.749 (-6.8)   |   IDXSMC-LIQ 373.577 (-15.72)   |   IDXV30 149.364 (-4.83)   |   INFOBANK15 1084.54 (-8.19)   |   Investor33 464.502 (-6.89)   |   ISSI 189.074 (-4.16)   |   JII 668.709 (-17.74)   |   JII70 233.837 (-6.47)   |   KOMPAS100 1296.34 (-25.94)   |   LQ45 1011.21 (-19.63)   |   MBX 1772.39 (-32.57)   |   MNC36 342.942 (-5.12)   |   PEFINDO25 336.865 (-11.6)   |   SMInfra18 332.042 (-9.57)   |   SRI-KEHATI 396.816 (-5.25)   |  

Film Dokumenter "Tanah Mama" Ditarik dari Festival Melanesia di Kupang

Rabu, 28 Oktober 2015 | 08:51 WIB
Oleh : Robert Isidorus / FMB

Jayapura - Film Tanah Mama yang merupakan film dokumenter berdurasi 62 menit yang disutradarai Asrida Elisabeth ditarik pemutarannya dalam Festival Budaya Melanesia di Kupang yang dilaksanakan mulai 26-30 Oktober 2015. Film ini diproduksi oleh Kalyana Shira Films dan diproduseri oleh Nia Dinata.

"Tanah Mama merupakan film dokumenter tentang perjuangan sehari-sehari perempuan Papua di Kurima, salah satu wilayah yang ada di pegunungan tengah Papua. Film ini merupakan salah satu film yang lolos seleksi Program Project Change.

Salah satu alasannya ditariknya film ini karena Festival Melanesia di Kupang lebih merupakan proyek politik dan diplomasi Indonesia daripada sebuah acara kebudayaan. Apalagi kegiatan di Kupang merupakan kelanjutan dari diterimanya Indonesia dalam Melanesian Spearhead Group (MSG), di mana Indonesia diwakili lima provinsi di Indonesia yaitu Papua, Papua, Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT yang kemudian dinamakan Melanesia Indonesia (Melindo).

“Klaim Melindo bagi saya terasa mengada-ada dan memicu politik identitas yang berbahaya di Papua. Masyarakat sipil di Papua pasti melihat kegiatan ini sebagai pengalihan isu di tengah upaya membangun solidaritas di wilayah Pasifik, dimana identitas Melanesia menjadi dasar perjuangan untuk penghormatan, perlindungan dan pemberdayaan orang Papua. Sementara untuk orang NTT, Maluku dan Maluku Utara, identitas melanesia ini seperti baru ‘diberikan’ negara,” kata sutradra Asrida Elisabet dalam siaran pers yang diterima SP, Rabu (28/10) pagi.

Menurutnya, sebagai bagian dari pekerja HAM di Papua dan mempertimbangkan rumitnya persoalan Festival Melanesia itu dalam lingkaran politik, ekonomi, sosial budaya di Papua, Indonesia dan Pasifik, maka festival tersebut dirasa sangat terkesan politis.

“Dalam konteks Papua lebih menciptakan kontroversi daripada penghargaan terhadap orang Melanesia. Saya pun tak pernah berkeinginan film dokumenter Tanah Mama digunakan dalam kerumitan persoalan ini. Apalagi film tersebut diputar sebagai perwakilan Papua,” ujarnya

Padahal film Tanah Mama memiliki pesan kepada pemerintah Indonesia untuk memperhatikan kondisi di Tanah Papua, baik hak sipil, politik, maupun hak ekonomi, sosial dan budaya. Sejak film itu diputar untuk umum, pemerintah Indonesia tidak ada usahanya untuk memperbaiki situasi, khususnya wilayah-wilayah yang berada di pegunungan tengah Papua.

“Memakai film ini untuk diplomasi Melanesia sangat tidak tepat. Saya pun berterima kasih kepada Kalyana Shira yang telah menarik kembali film "Tanah Mama" dari festival ini,” kata Asrida.

Untuk diketahui, Festival Budaya Melanesia di Kupang mengundang sejumlah negara anggota MSG, seperti Papua Nugini, Fiji, Kepulauan Salomon, Vanuatu, dan Keledonia Baru. Dari Indonesia, bukan hanya provinsi Papua dan Papua Barat yang menegaskan identitas melanesia, tetapi NTT, Maluku, Maluku Utara, yang oleh pemerintah diklaim juga merupakan bagian dari ras melanesia yang kemudian disebut melanesia Indonesia (Melindo). Agenda dalam festival ini antara lain konferensi, pemutaran film dan pertunjukan tari.

Untuk diketahui, Festival Budaya Melanesia di Kupang mengundang sejumlah negara anggota MSG, seperti Papua Nugini, Fiji, Kepulauan Salomon, Vanuatu, dan Keledonia Baru. Dari Indonesia, bukan hanya provinsi Papua dan Papua Barat yang menegaskan identitas melanesia, tetapi NTT, Maluku, Maluku Utara, yang oleh pemerintah diklaim juga merupakan bagian dari ras melanesia yang kemudian disebut melanesia Indonesia (Melindo). Agenda dalam festival ini antara lain konferensi, pemutaran film dan pertunjukan tari.

Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Sumpah Pemuda ke-87, Basuki: Paling Bahaya Adalah Tidak Saling percaya

Peringatan sumpah pemuda kali ini mengambil tema Revolusi Untuk Kebangkitan Pemuda Menuju Aksi Satu Bumi.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Lanal Bengkulu Tanam 12.000 Bibit Mangrove di Panti Panjang

Pohon Mangrove sangat dibutuhkan di kawasan bibir pantai untuk mencegah abrasi.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Survei: Dua Hal Ini Paling Memuaskan di Pemerintahan Jokowi-JK

Tingkat kepuasan publik terhadap dua kinerja tersebut di atas 50 persen.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Kasus Korupsi Aset Daerah, Mantan Bupati Mukomuko Ditahan

Sebelumnya Ichwan Yunus dikenakan tahanan kota.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Hujan Turun, Asap di Jambi Mulai Menipis

Debu kebakaran hutan yang bercampur asap hilang disapu hujan yang mengguyur Jambi.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Dinkes Rejang Lebong Usulkan Bantuan 30.000 Masker ke Kemkes

Persediaan masker yang ada di Dinkes Rejang Lebong sudah habis dibagikan ke warga beberapa waktu lalu.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Peringati Sumpah Pemuda, Garda NTT Gelar Kirab untuk Bangsa

"Pemuda dan mahasiswa tidak boleh pesimis menjadi orang Indonesia."

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Asap Menebal, Rejang Lebong Butuh 30.000 Masker

Utuk mengantisipasikan kabut asap semakin tebal melanda wilayah Rejang Lebong dalam dua hari terakhir.

NASIONAL | 28 Oktober 2015

Dua Buruh Pelabuhan Panjang Tewas Keracunan Gas

"Penyebab insiden itu adalah gas amoniak yang berasal dari biji kelapa sawit yang ada di dalam kapal."

NASIONAL | 28 Oktober 2015

150 Hektare Hutan Lindung di Rejang Lebong Terbakar

Tidak ada sumber air terdekat untuk memadamkan kobaran api tersebut.

NASIONAL | 28 Oktober 2015


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS