Perusahaan Penerbangan SAS Layani Pedalaman Papua

Perusahaan Penerbangan SAS Layani Pedalaman Papua
Salah satu pesawat milik PT Spirit Avia Sentosa (Flying SAS) yang mulai beroperasi di Papua, Jumat 11 Maret 2016. ( Foto: SP/Robert Vanwi )
Robert Isidorus / AB Jumat, 11 Maret 2016 | 19:44 WIB

Jayapura - Untuk mendukung pembangunan di wilayah Pengunungan Papua, salah satu perusahaan penerbangan PT Spirit Avia Sentosa (Flying SAS) sebagai perusahaan penerbangan perintis yang sudah memegang air operator certificate, Jumat (11/3) ) siang, meresmikan penerbangan di wilayah di Papua. Perusahaan penerbangan ini bermarkas di di hangar eks Merpati, Bandar Udara Frans Kaisiepo, Biak.

Jalur penerbangan yang dibuka dimulai dari Kabupaten Biak menuju pedalaman Papua, seperti Sugapa, Illaga, Mulia, Bade, Enarotali, Tanah Merah, Wagete, Kepi, Mappi, Ewer, Pogapa, Monamani, Serui, Kimam, Wanam, Senggo,Mindiptanah, Bokondini, Kelila, Elelim, Karubaga, Tiom, Kobakma, Apalapsili, Dekai, Bioga, Sinak, Kenyam, Potowai, Jila dan Enduga.

Hal tersebut disampaikan Managing Director , PT Spirit Avia Sentosa, Kevin Audy Lesmana kepada SP di Jayapura, Papua Jumat (11/3).

Dikatakan, misi Flying SAS sejalan dengan program Presiden Joko Widodo untuk percepatan pembangunan wilayah timur, khususnya Papua. Presiden sangat berharap adanya sarana transportasi yang bisa menjangkau semua wilayah di Papua.

Untuk melayani Papua, pihaknya mengoperasikan empat pesawat, yakni 1 Cessna Caravan dan 3 Twin Otter. Keempat armada tersebut akan ditempatkan (base operation) di Biak-Nabire-Timika-Wamena-Merauke untuk mengangkut penumpang dan kargo untuk wilayah pedalaman Papua.

"Di samping sebagai operator penerbangan, kami juga berkerja sama dengan doctorshare untuk memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat yang tinggal pedalaman Papua,” ujarnya.

Bupati Biak, Thomas Ondi menyambut baik kehadiran Flying SAS, karena ada tiga masalah yang bisa dipecahkan dengan beroperasinya transportasi udara tersebut. 

"Beroperasinya SAS di Biak membuat tiga masalah terpecahkan, yakni masuknya investasi, ada sarana tranportasi menuju daerah yang jauh dan terpencil, serta menghidupkan kembali kegiatan Bandara Frans Kaisiepo Biak,” kata Thomas Ondi.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE