Napi Teroris No’im Ba’syir Masih Diisolasi

Napi Teroris No’im Ba’syir Masih Diisolasi
Dua anggota polisi dari Polresta Probolinggo berada di depan salah satu rumah orang tua terduga teroris Isnaini Ramdhoni, di Jalan Pahlawan Gang Kemiri No 51, Kebonsari Kulon, Kanigaran, Kota Probolinggo, Jatim, Selasa (21/1). Terduga teroris yang tertangkap oleh anggota Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror di Surabaya Senin (20/1) lalu. ( Foto: ANTARA FOTO / Adhitya Hendra )
Aris Cahyadi / EHD Selasa, 12 Juli 2016 | 07:05 WIB

Tuban - Narapidana (napi) kasus teroris, No’im Ba’syir yang juga adik dari Abu Bakar Ba’asyir yang baru saja dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) II/A Pamekasan, Madura, Minggu (10/7) dini hari baru lalu ke Lapas Kelas II/B Tuban, hingga kini masih menempati kamar khusus isolasi.

Ia yang ditangkap dan ditahan sejak 2013 yang lalu itu dilarang berbaur dengan napi lainnya karena dikhawatirkan akan mencemari pemikiran napi lainnya. “No’im ditempatkan di sel khusus yang diberi nama Sel Pesanggrahan Candi Nengah. Sel tersebut memiliki ukuran 3x6 meter dan terpisah dengan tempat tahanan napi lainnya. Itu karena dia masih pengenalan lingkungan. Kami masih belum membolehkan dia berkumpul dengan napi yang lain,” ujar Siswarno, Humas Lapas Kelas II/B Tuban yang dikonfimasi, Selasa (12/7) pagi.

Siswarno mengemukakan, tidak ada perlakuan khusus terhadap No’im Ba'asyir yang telah dipindah di Lapas Tuban. Namun karena masih dalam tahapan isolasi dan juga karantina, napi teroris itu masih belum boleh dibesuk oleh keluarga maupun kerabatnya.

“Ini perlakuan yang sama dengan napi lainnya, selnya juga sama seperti sel yang lain. Hanya saja memang saat ini belum boleh dibesuk keluarganya,” ujar dia.

Belum diketahui secara pasti alasan pemindahan No’im itu kenapa ditempatkan di Lapas kelas II/B Tuban itu. “Kami hanya menjalankan tugas saja, soal bagaiman nantinya kita masih menunggu instruksi. Kami sudah koordinasi dengan pihak kepolisian serta TNI untuk meningkatkan keamanan,” tandas Siswarno yang enggan mengomentari tentang pemindahan No’im Ba'asyir dari Lapas Kelas II/A Pamekasan karena berbuat onar dan mengancam perang dengan pihak Lapas.

Ancaman itu terjadi karena No’im Ba'asyir meminta kepada pimpinan Lapas agar disediakan bilik asmara. Namun hal tidak bisa dipenuhi karena tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Sumber: Suara Pembaruan