Tito Sesalkan Aksi Penyerangan Mapolres Meranti

Tito Sesalkan Aksi Penyerangan Mapolres Meranti
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian ( Foto: Antara/Sahrul Manda Tikupandang )
Farouk Arnaz / FER Jumat, 26 Agustus 2016 | 22:23 WIB

Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian angkat bicara soal insiden saat ratusan warga mengepung Mapolres Kepulauan Meranti, Riau, Kamis (25/8) kemarin.

Saat itu bahkan sejumlah massa melempari Mapolres dengan batu dan kayu. Lemparan batu dibalas dengan beberapa kali tembakan dari arah Mapolres Kepulauan Meranti.

"Prinsipnya situasi sudah kondusif. Cuma saya menyesalkan peristiwa ini terjadi. Seharusnya tidak perlu terjadi. (Sebabnya ada) peristiwa anggota polisi yang dibunuh karena hanya rebutan perempuan kalau saya tidak salah dan kemudian pelakunya ditangkap," lanjut Tito.

Pelakunya ini, katanya, Tito melanjutkan, melakukan perlawanan sehingga kemudian dilakukan upaya kekerasan sehingga akhirnya dia meninggal dunia. Buntutnya masyarakat disana marah dan kemudian mempertanyakan kenapa pelaku sampai meningga dunia di tangan polisi.

"Dalam commader wish saya sangat jelas saya katakan tidak boleh melakukan kekerasan eksesif yang berlebihan kepada siapapun termasuk kepada pelaku. Anggota ini sedang kita periksa dan saya tegas kepada Kapolda," lanjutnya.

Kepada Kapolda, Tito memerintahkan supaya tadi malam turun langsung ke lokasi dengan pejabat utama. Hari ini Mabes Polri menerjunkan Asops Irjen Unggung Cahyono dan Kadiv Propam Irjen Mochamad Iriawan untuk mengusut secara serius kenapa kasus ini terjadi.

"Kalau seandainya betul ada perlawanan dan hasil visum menunjukkan itu, saksi-saksi menunjukkan itu, confirm, dijelaskan kepada publik, jelaskan kepada masyarakat bahwa dia meninggal karena perlawanan," urai Tito.

Tapi kalau ternyata hasil pemeriksaan mengatakan bahwa dilakukan penganiayaan terhadap tersangka dan dia sudah menyerah maka dia tidak akan segan-segan untuk meminta kepada anggota yang bersangkutan diproses hukum baik secara internal maupun secara proses pidana.

"Ini saya tegas. Berarti dia melanggar commander wish saya. Tidak boleh melakukan tindakan eksesif, tindakan kekerasan yang berlebihan. Apalagi kepada tersangka yang sudah menyerah. Yang sudah dikuasai," urainya.

Untuk itu dia minta kepada masyarakat di Meranti untuk tenang dan mempercayakan petugas dari Polda dan Mabes Polri. Tito berjanji tidak akan melindungi anggota kalau salah.

"Juga didatangkan ahli forensik untuk melakukan penyidikan secara serius, jangan ditutup-tutupi. Kalau seandainya anggota benar melakukan tindakan maka kita akan sampaikan kepada publik fakta-faktanya," tegasnya.

Kasus ini bermula saat Adil S Tambunan (31 tahun), warga Jalan Sumbersari, Selatpanjang yang merupakan salah seorang anggota kepolisian Polres Kepulauan Meranti, tewas bersimbah darah setelah berkelahi dan ditikam sekitar lima tusukan.

Pelakunya seorang pegawai honorer di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kepulauan Meranti yang berinisial Apri Andi Pratama (24 tahun) ditangkap.

Apri dilumpuhkan polisi dengan tembakan di kedua kakinya, Namun, beberapa jam kemudian, tersiar kabar Andi meninggal dunia. Ratusan masyarakat pun berdatangan dari berbagai arah mengepung Mapolres Kepulauan Meranti.

Massa menuntut agar Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Asep Iskandar menjelaskan kronologis terkait kematian pelaku. Kapolres sempat memberi penjelasan di hadapan massa akan mengusut tuntas kasus tersebut.









Sumber: BeritaSatu.com