Kronologi Kasus Dimas Kanjeng, Pimpinan Padepokan "Bank Gaib" yang Menghabisi Santrinya

Kronologi Kasus Dimas Kanjeng, Pimpinan Padepokan
Dimas Kanjeng, pimpinan padepokan Dimas Kanjeng yang mengaku bisa menggandakan uang ( Foto: Ist )
Aries Sudiono / FMB Kamis, 29 September 2016 | 07:23 WIB

Probolinggo - Dimas Kanjeng mengaku sebagai anak seorang mantan pejabat tingkat kecamatan yang bukan dari keturunan raja. Namun melalui Padepokan Dimas Kanjeng yang mengambil model mirip pesantren namun nyeleneh yang ia dirikan sejak 2010 di Dusun Sumber Cengkelek RT-22/RW-08 Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, mengajarkan hal-hal yang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo dinilai sebagai musrik di tengah-tengah prosesi ritual yang tidak masuk akal.

Salah satu hal yang aneh itu antara lain, para pengikutnya ("santri") diminta membayar uang mahar sebagai pancingan untuk digandakan secara gaib menjadi 1.000 kali. Padepokan yang ia dirikan selain dijadikan sebagai ‘bank gaib’ juga tempat pengajian. Namun demikian ada perintah yang nyeleneh dari Dimas Kanjeng yang memerintahkan santrinya untuk berburu ayam hutan di Gunung Semeru tanpa memakai alat. Menangkap sedikitnya 200 ekor udang di petilasan Gajahmada, juga wajib membeli seutas benang sepanjang 15 sentimeter yang disebut sebagai ‘Tali Ali Baba’ seharga Rp 200.000.

Menurut Dimas Kanjeng, hal-hal tersebut merupakan bagian dari ritual untuk nantinya akan mendapatkan kantong gaib dari Yang Maha Kuasa dan mampu mengeluarkan uang dalam jumlah tak terbatas. Runyamnya lagi, Dimas Kanjeng juga mewajibkan santrinya ikut pengajian pada setiap Kamis malam di rumah para ‘Sultan’ (koodinator pengepul mahar) agar menjadi sosok santri yang sabar, nrimo dan ikhlas.

Kebohongan demi kebohongan yang ditebar Dimas Kanjeng sejak Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo yang dibangun tahun 2010 itulah, oleh dua orang ‘Sultan’ (Hidayah Ismail dan Abdul Gani) yang gerah karena terus-menerus ditagih ‘santri’ yang mereka koordinir dengan uang mahar bernilai puluhan miliar, tidak juga berhasil digandakan dan bahkan uang mahar itu tidak juga dikembalikan utuh. Mereka kemudian mengancam akan membongkar aksi Dimas Kanjeng yang berkedok sebagai Pimpinan Padepokan ‘Bank Gaib’ Dimas Kanjeng ke polisi.

Harus dilenyapkan
“Mereka harus dilenyapkan karena membahayakan kelangsungan padepokan,” ujar Dimas Kanjeng Taat Pribadi ketika memerintahkan kesembilan orang pengawal pribadinya (centengnya) untuk menghabisi dua orang koordinator pengepul pemasang uang mahar (disebut ‘santri’) untuk dilipatgandakan menjadi 1.000 kali dari uang mahar yang diserahkan para ‘santri’-nya. Kedua koordinator itu bernama Hidayah Ismail asal Situbondo dan Abdul Gani asal Probolinggo, harus dihabisi karena mengancam akan membongkar kedok tipu-tipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi ke Polisi.

Mulanya kedua korban bersedia menjadi koordinator pengepul para ‘santri’ karena selain dijanjikan akan dibantu dana miliaran rupiah untuk memajukan usaha atau bisnisnya, juga sekaligus dijanjikan akan diangkat sebagai Sultan. Sebab, Dimas Kanjeng sendiri (baru saja) dinobatkan oleh Koordinator Raja-raja se-Nusantara dalam prosesi Jumenengan (penobatan) yang meriah dan fantastis sebagai Raja Probolinggo dan sekitarnya, dengan gelar Sri Raja Prabu Rajasa Nagara, 11 Januari 2016 baru lalu.

Dimas Kanjeng melalui kaki tangannya, pada Februari 2016 kemudian membujuk korban datang ke padepokan yang berada di areal seluas dua kali lapangan sepakbola, guna menerima dana bantuan sebesar Rp 20 miliar. Karena menolak datang ke padepokan, sembilan centeng Dimas Kanjeng menculik Hidayah Ismail dan dibunuh secara keji oleh para tersangka. Leher korban dijerat tali dan kedua tangan terikat kebelakang dengan kepala dibungkus tas plastik kresek.

Mayat korban kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dikubur secara terburu-buru di kawasan hutan Tegalsiwalan, Situbondo dan kedalaman liang lahat kurang dari setengah meter. Oleh karenanya, mayat korban yang sejak semula dipastikan polisi sebagai korban pembunuhan itu kemudian dibongkar sekelompok anjing dan ditemukan penduduk setempat. Namun karena tidak ada yang mengenalinya, maka korban diidentifikasi sebagai Mr X.

Korban kedua Abul Gani, yang dalam kesehariannya dikenal sebagai pedagang perhiasan emas dan batu permata asal Desa Semampir, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo dihabisi kesembilan orang (tersangka) centeng Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada awal Juli 2016 dengan modus operandi yang sama dengan korban Hidayah Ismail. Hanya saja untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka, mayat korban justru diangkut mobil dan dibuang begitu saja di bawah jembatan Waduk Gajahmungkur, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengan (Jateng).

“Modusnya sama dengan korban Hidayah Ismail. Leher korban dijerat tali, kedua tangannya diikat ke belakang dan kepalanya dibungkus tas plastik kresek. Identitas korban tidak ditemukan, sehingga diidentifikasi sebagai Mr X,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Anton Setiadi dalam percakapan dengan wartawan, Kamis (28/9) sore. Kedua kasus penemuan mayat Mr X itu berhasil dikenali setelah diusut dengan teliti oleh Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim melalui tes DNA.

“Dari penelusuran modus operandi dan ciri-ciri yang ada, penemuan mayat di Gajahmungkur, Wonogiri akhirnya identik pula dengan penemuan mayat di hutan Tegalsiwalan, Situbondo. Setelah melalui tes DNA, kedua korban diketahui identitasnya,” ujar Kapolda Jatim lagi sambil menambahkan, petugas Jantaras Ditreskrimum Polda Jatim kemudian langsung menangkap enam orang (tiga orang masih buron) centeng Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dalam pemeriksaan, mereka mengaku sebagai tersangka pelaku yang taat atas perintah majikannya selaku pimpinan padepokan.

Menurut Kapolda, tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan terhadap Hidayah Ismail dan Abdul Gani. Motif dari pembunuhan itu sendiri dilatarbelakangi ketakutan tersangka terhadap kedua korban karena kedua santrinya (Hidayah Ismail dan Abdul Gani) adalah koordinator pengepul uang mahar yang akan digandakan oleh tersangka. Sebagai pengepul, mereka bertanggung jawab terhadap uang orang lain yang dibawa untuk digandakan.

Untuk indikasi korban lain yang mungkin terkait dengan Dimas Kanjeng, menurut Irjen Pol Anton Setiadai hal itu masih dalam penyelidikan. “Memang, di Jatim sering kita temukan mayat tak dikenal. Juga akan kita gali sekitar pedepokan yang mungkin dijadikan tempat penguburan para korban lainnya. Ada banyak bungker di kawasan padepokan itu, termasuk dijadikan sebagai tempat penyimpanan uang,” ujar Anton Setiadi.

Pada bagian lain Kapolda Jatim membenarkan, pihaknya kini meminta bantuan tim ahli dari Bank Indonesia (BI) guna meneliti uang yang tersimpan di bungker-bungker padepokan, apakah asli atau palsu. Dalam pemeriksaan terungkap, ada indikasi uang yang notabene digandakan disimpan tersangka ke salah seorang di Jakarta. Jumlah uang yang ada itu diakui Irjen Pol Anton Setiadi cukup fantastis yakni mencapai angka Rp 1 triliun.

Tersangka yang mengaku sebagai otak pembunuhan, bakal dijerat pelanggaran Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang direncanakan (moord) dengan ancaman hukuman mati, atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara.



Sumber: Suara Pembaruan