Lakpesdam PBNU: Waspadai Skenario Adu Domba di Jakarta

 Lakpesdam PBNU: Waspadai Skenario Adu Domba di Jakarta
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian bersama Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siradj (tengah) baru saja menandatangani MoU di Bidang Kamtibmas, bertempat di Gedung Serbaguna Mahameru Mapolda Jatim, Surabaya, Kamis (1/9). [ARIES SUDIONO] ( Foto: suara pembaruan / Aries Sudiono )
Siprianus Edi Hardum / EHD Jumat, 14 Oktober 2016 | 11:01 WIB

Jakarta – Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Rumadi Ahmad, meminta apara t penegakan hukum dan seluruh elemen masyarakat agar waspadai skenario adu domba dalam Pilkada DKI.

Rumadi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/10), mengatakan, Pilkada DKI telah berkembang ke arah yang cukup mengkhawatirkan. Bukan saja soal calon gubernur (Cagub) petahana, Basuka Tjahaya Purnama (Ahok) yang pernyataannya di Kepulauan Seribu yang memicu kontroversi, tapi juga respon sebagian kelompok yang sengaja memanfaatkan isu ini untuk tujuan-tujuan lain di luar Pilkada DKI.

Ia mengatakan, sebenarnya situasi pasca kontroversi pernyataan Ahok mengenai Surat al-Maidah sudah mulai mereda setelah Ahok minta maaf secara terbuka atas ucapannya yang dianggap menyinggung umat Islam. “Tokoh-tokoh agama ternama juga menanggapi positif permintaan maaf itu. Semua itu menjadikan situasi yang semua penuh ketegangan mulai mereda,” kata dia.

Tetapi belakangan situasi kembali memanas, terutama setelah MUI mengeluarkan pernyataan sikap yang pada intinya menyatakan Ahok telah melakukan penistaan agama. Situasi tambah semakin memanas karena sebuah stasiun TV swasta menggelar acara dialog secara live kurang lebih 4 jam, dengan tema “Setelah Ahok Minta Maaf”.

Berkembang juga berita, Jumat 14 Oktober 2016 akan ada aksi besar yang dimulai dari Mesjid Istiqlal, dengan tema “Tangkap Ahok Penista Agama”. Situasi ini menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran, sehingga Gereja Katedral yang letaknya di sebelah Mesjid Istiqlal merasa perlu membuat himbauan khusus kepada Jemaatnya agar besok hari itu tidak mendekat ke kawasan Katedral jika tidak ada keperluan mendesak.

Rumadi menduga ada kelompok-kelompok yang mengambil untung dari situasi untuk merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Hal ini dilakukan dengan mengadu domba antara umat Islam dan non-Islam, bahkan antar sesame umat Islam yang mempunyai halauan yang berbeda.

Mereka akan menunggangi organisasi-organisasi keagamaan, untuk memuluskan agenda adu dombanya.
“Siapakah kelompok itu ? Sebenarnya tidak terlalu sulit dikenali. Mereka bukan saja benci pada Ahok, tapi juga benci tatanan Negara ini, benci pada Pancasila, benci pada NKRI dan seterusnya yang dianggap sebagai sistem Negara thagut. Anasir-anasir kelompok radikal akan berkumpul dengan memanfaatkan persoalan Ahok menjadi pintu masuknya. Namun, yang dituju bukan soal Ahok, tapi lebih besar dari itu,” kata dia.

Karena itu, ia meminta waspada dengan skenario adu domba yang sudah mulai terasa. “Bukan soal Ahok dan Pilkada DKI, tapi ini soal keutuhan bangsa,” pungkas Rumadi.