Presiden Jokowi: Tindak Keras Penyebar Berita Hoax

Presiden Jokowi: Tindak Keras Penyebar Berita Hoax
Presiden Joko Widodo meninjau ruangan unit contoh (mock up) ketika melakukan kunjungan pemasangan atap atau topping off proyek Wisma Atlet Asian Games XVIII 2018 di Kemayoran, Jakarta, Kamis (29/12). ( Foto: ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf )
Carlos KY Paath / FMB Jumat, 30 Desember 2016 | 07:47 WIB

Jakarta – Pelaku penyebar berita hoax atau bohong harus ditindak. Media-media online atau daring yang sengaja membuat berita provokatif juga perlu dievaluasi.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memimpin Rapat Terbatas dengan topik Antisipasi Perkembangan Media Sosial di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/12).

“Penegakan hukum harus tegas dan keras. Kita harus evaluasi media-media online yang sengaja memproduksi berita-berita bohong tanpa sumber yang jelas, dengan judul yang provokatif dan mengandung fitnah,” kata Presiden.

Menurut Presiden, perkembangan teknologi informasi memang bermanfaat untuk masyarakat. Meski begitu, aspek negatif atas itu juga begitu banyak. Diungkapkan, informasi meresahkan, berupaya mengadu domba serta memecah belah bangsa, marak beredar. Misalnya, beberapa ujaran kebencian, pernyataan kasar, mengandung fitnah dan provokatif.

“Kalau kita lihat bahasa-bahasa yang dipakai adalah bahasa-bahasa, misalnya, bunuh, bantai, gantung. Sekali lagi, ini bukan budaya kita, bukan kepribadian bangsa kita,” tegasnya.

Presiden juga berharap adanya suatu gerakan peningkatkan literasi dan edukasi, termasuk menjaga etika netizen. “Gerakan ini penting untuk mengajak netizen kampanyekan bagaimana berkomunikasi melalui media sosial yang baik, yang beretika, yang produktif, yang positif, yang berbasis nilai-nilai budaya kita,” ujarnya.

Presiden menyatakan, jumlah pengguna internet aktif di Tanah Air mencapai 132 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 129 juta memiliki akun media sosial aktif. Ditambahkan, rata-rata netizen menghabiskan waktu 3,5 jam per hari menggunakan internet melalui telepon pintar.

Presiden meminta perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan ke arah positif. Contohnya, untuk menambah pengetahuan, memperluas wawasan, menyebarkan nilai-nilai positif, optimisme, kerja keras, integritas, kejujuran, nilai-nilai toleransi dan perdamaian, serta nilai-nilai solidaritas dan kebangsaan. “Media sosial harus diarahkan ke arah yang produktif, mendorong kreativitas dan inovasi,” pungkasnya.

Seusai rapat, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengajak masyarakat tidak mudah menyebarkan informasi bersifat kebencian, provokatif, dan fitnah.

Ditegaskan, pihak keamanan pasti menindak orang-orang yang memproduksi maupun menyebarkan ujaran kebencian. “Dua-duanya (ditindak). Ini bukan tindakan sewenang-wenang tapi tegas demi kemaslahatan kita bersama,” kata Wiranto.

“Kepada masyarakat kita harapkan lebih waspada terhadap upaya-upaya berupa provokasi, agitasi, dan propaganda dari pihak-pihak lain yang ingin membangun pemahaman yang berbeda terhadap pemerintah. Pemerintah saat ini sedang menjalankan program pembangunan secara serius dan sungguh-sungguh.”



Sumber: Suara Pembaruan