Ini Pembelaan Adhyaksa Dault soal Video Khilafah
Logo BeritaSatu

Ini Pembelaan Adhyaksa Dault soal Video Khilafah

Senin, 1 Mei 2017 | 19:08 WIB
Oleh : Markus Junianto Sihaloho / YUD

Jakarta - Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus penjelasan terkait video Hizbut Tahrir Indonesia di laman Facebooknya. Menurutnya, Pancasila adalah kesepakatan pendiri Republik Indonesia. Dan dia bersikap bahwa "NKRI selamanya, NKRI harga mati".

Berikut penjelasan Adhyaksa Dault, yang diterima lewat keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Senin (1/5).

"Assalamualaikum Wr.Wb. Saya mau menjelaskan video saya yang direkam oleh aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), saat acara HTI tahun 2013. Seperti banyak acara organisasi lain yang saya hadiri, saya dan beberapa tokoh hadir di acara HTI itu sebagai undangan. Saya bukan simpatisan HTI, apalagi anggota HTI.

Beberapa hari ini, video yang diambil empat tahun lalu itu, kembali disebarluaskan oleh beberapa akun di media sosial.

Karena video itu, saya difitnah anti Pancasila dan anti NKRI. Bagaimana mungkin saya dituduh anti Pancasila?. Saya ikut pengkaderan dari bawah, sejak kuliah saya mengikuti P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), Tarpadnas (Penataran Kewaspadaan Nasional), Suspadnas (Kursus Kewaspadaan Nasional). Saya mengikuti Bela Negara dan sebagai kader Bela Negara, dan banyak lagi, sampai saya jadi Ketua Umum KNPI, kemudian jadi Menpora, kemudian sekarang menjadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka.

Sampai detik ini, dimanapun dan setiap ke daerah, saya selalu menyampaikan pada generasi muda agar mempertahankan dan merawat Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 2016 kemarin, saya menggagas lomba foto #PramukaPancasila agar generasi muda menghayati dan mengamalkan Pancasila. Boleh teman-teman telusuri di internet.

Mengenai khilafah islamiyah itu memang ada hadistnya, tapi khilafah yang saya maksud adalah khilafah islamiyyah yang rosyidah, bukan khilafah yang berarti meniadakan negara, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir, apalagi ISIS dan sebagainya. Terkait video itu, harus dilihat juga tempat dan waktu saya berbicara, itu video empat tahun lalu. Sekarang tahun 2017, artinya video tersebut tidak relevan.

Sekarang ini tidak ada persatuan Islam, hari raya saja bisa berbeda, kalau ada khalifah, maka perbedaan-perbedaan dalam ibadah-ibadah tersebut bisa ditiadakan. Sekali lagi, ini bukan khilafah yang meniadakan negara. Jadi Pancasila, UUD 45, NKRI Bhinneka Tunggal Ika harus kita pertahankan dan kita rawat untuk generasi selanjutnya. Pancasila sudah menjadi kesepakatan pendiri Republik Indonesia. NKRI harga mati.

Kembali ke Pancasila dan NKRI. Saya masih ingat, saat awal reformasi lagi ramai-ramainya orang teriak negara federasi, negara serikat dan sebagainya. Saya sebagai Ketua Umum KNPI ketika itu langsung mengadakan kebulatan tekad NKRI harga mati. Saya daulat tokoh-tokoh nasional ketika itu seperti Pak SBY, Pak Amien Rais, Pak Wiranto, Pak AM Fatwa dan tokoh-tokoh lainnya untuk mendatatangani komitmen NKRI. Sekarang komitmen dan tandatangan beliau-beliau semua itu masih terpatri di dinding kantor DPP KNPI, Jalan Rasuna Said, Jakarta.

Demikian sementara dari saya, atas perhatian dan kerjasamanya, saya haturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. NKRI Selamanya.

Jakarta, 1 Mei 2017, Adhyaksa Dau‎lt."

Berikut video pernyataan Adhyaksa Dault soal khilafah:

[YOUTUBE]https://www.youtube.com/watch?v=UqgoY7nY0HA[/YOUTUBE]



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Di Medan, Ribuan Buruh Turun ke Jalan Bawa Anak dan Istri

Mereka datang dari Binjai, Deli Serdang, Marelan, Belawan dan lainnya.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Orangutan Albino Pertama Ditemukan di Kapuas

Orangutan albino tersebut saat ini sudah Pusat Rehabilitasi Orangutan, Nyaru Menteng, Palangkaraya.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Setelah Ditangkap, Miryam Jalani Pemeriksaan Intensif di KPK

Sebagaimana prinsipnya kami akan melakukan penyidikan lebih intensif karena tersangka sudah mulai kami lakukan pemeriksaan.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Ini Dugaan Motif Kaburnya Miryam

Miryam S Haryani kabur karena ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena memberikan keterangan palsu.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Polda Jabar Pastikan Peringatan Hari Buruh Kondusif

Unjuk rasa "May Day" di Jabar tersebar di beberapa titik.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Pemerintah Bantah Isu Rasionalisasi PNS

Hingga saat ini Pemerintah tidak berencana bahkan tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan rasionalisasi pegawai

NASIONAL | 1 Mei 2017

Aksi "May Day" di Bandung Diwarnai Perusakan Pos Polisi

Peringatan hari buruh internasional "Mayday", Senin (1/5), diwarnai aksi pengerusakan pos polisi di Jalan Ir. Djuanda, Kota Bandung oleh sekelompok massa.

NASIONAL | 1 Mei 2017

WNA Ikut Aksi May Day di Bandung

Keberadaan bule tersebut cukup menyita para buruh.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Tim SAR Kembali Temukan Korban Banjir Bandang Magelang

Jenazah langsung dievakuasi ke lingkungan setempat dan tidak dibawa ke puskesmas.

NASIONAL | 1 Mei 2017

Tanggulangi Banjir, Pengerukan Sungai di Kota Jambi Mendesak

Perbaikan drainase menjadi solusi utama mencegah dan menanggulangi banjir.

NASIONAL | 1 Mei 2017


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS