Susun RPJP, Benarkah IPB Siapkan Generasi Tangguh 2045?

Susun RPJP, Benarkah IPB Siapkan Generasi Tangguh 2045?
Kampus IPB (istimewa)
PR / HS Senin, 15 Mei 2017 | 07:12 WIB

Bogor – Setelah disorot sejumlah kalangan terkait aktivitas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Institut Pertanian Bogor (IPB) secara institusi pun menepis hal itu. Kini, IPB menyusun Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) 2018-2045 dengan salah satu strategi pendidikan yang digagas adalah menyiapkan generasi yang tangguh dan penuh berprestasi.

"IPB harus menghasilkan lulusan yang kompeten dan tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah serta mampu bersaing secara global," kata Rektor IPB Prof Herry Suhardiyanto di Bogor, dalam keterangan tertulisnya pekan lalu.

RPJP 2018-2045 disusun sebagai acuan bagi seluruh unsur internal IPB dalam merumuskan program kerja, kegiatan pendidikan, maupun target kinerja yang ingin dicapai baik setiap tahunnya.

Herry mengatakan, IPB harus bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dalam membangun jejaring kerja sama demi kemajuan IPB baik di tingkat nasional dan internasional.

Menurut Herry, lulusan IPB harus menjadi bagian dari sumberdaya yang handal dan peduli dalam membangun negara dan bangsa Indonesia. Untuk itu, IPB harus merancang program akademik yang membentuk mahasiswa IPB tidak sekadar selesai mengikuti proses pembelajaran, tetapi juga kompeten dalam bidangnya, serta mampu berinteraksi dengan semua pihak.

Ketua Tim Penyusunan RPJP 2018-2045 IPB Prof Hermanto Siregar menjelaskan, RPJP 2018-2045 IPB berperan penting dalam pembangunan sumberdaya manusia dan IPTEK, lulusan yang kompeten di bidangnya, tanggap terhadap masalah sekitar, dan mampu bersaing secara global.

Selain itu, IPB juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat, perkembangan lingkungan yang strategis diantaranya trend perkembangan nasional dan global, reformasi sistem pendidikan tinggi, dan revitalisasi pertanian.

Secara terpisah, Wakil Sekjen Komunitas Alumni IPB (KA IPB) Yayat Dinar, Minggu (14/5), menyambut baik RPJP yang mampu mendorong lulusan dalam mengoptimalkan sumber daya alam yang ada. Apalagi, dengan bekal teknologi dan pengetahuan yang diperoleh, sumber daya alam tersebut diolah sehingga mempunyai nilai tambah dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Namun, strategi tersebut bisa terwujud sejauh iklim pendidikan dan situasi pembelajaran yang kritis dan berkualitas. Hal itu perlu ditekankan karena ada unsur-unsur ideologi tertentu yang menyebabkan berbagai strategi yang dicanangkan selama ini sulit terwujud.

“Paham radikalisme yang tumbuh subur di lingkungan kampus IPB dalam dua dekade terakhir ini sebenarnya tidak sinkron dengan berbagai strategi yang disusun oleh pimpinan IPB,” tegas Yayat.



Sumber: Suara Pembaruan