Ini Isi Akun Faizal Tonong yang Membuatnya Ditangkap

Ini Isi Akun Faizal Tonong yang Membuatnya Ditangkap
Muhammad Faisal Tanong, tersangka ujaran kebencian di media sosial yang ditangkap polisi pada 20 Juli 2017. (Foto: Humas Polri)
Heru Andriyanto / HA Jumat, 21 Juli 2017 | 18:59 WIB

Jakarta - Pemilik akun Facebook Faizal Muhammad Tonong akhirnya ditangkap polisi di Jakarta Utara Kamis (20/7) kemarin karena banyak mengunggah gambar rekayasa atau meme dengan pengantar bernada kebencian cenderung fitnah terhadap pemerintah dan Kepolisian RI.

Misalnya pada 19 Juli atau sehari sebelum ditangkap, tersangka yang bernama asli Muhammad Faisal Tanong itu mengunggah meme yang menyebutkan bahwa Kapolri Tito Karnavian adalah dalang adu domba Banser NU dengan Hizbut Tahrir Indonesia.

Unggahan itu disertai kutipan berita sebuah media daring berjudul "Kapolri: Terbitkan Perppu Ormas, Jokowi Berani Ambil Risiko", namun setelah dicermati tidak ada dalam berita itu yang menyebutkan Tito menjadi dalang adu domba, atau kalimat yang mengarah ke hal tersebut.

Lalu pada Kamis, diunggah meme dengan foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan tulisan di bawahnya "2019 udah ga laku, jelas anti Islam pro PKI serta banyak ingkar janji."

PKI atau Partai Komunis Indonesia adalah organisasi yang dilarang sejak 1966 dan tidak eksis di politik Indonesia kontemporer, baik sebagai entitas maupun keterwakilan di parlemen. Faisal tidak menunjukkan bukti kehadiran PKI sekarang ini, pun tidak disebutkan kapan dan di mana Presiden Jokowi melakukan tindakan yang mendukung PKI.

Pada unggahan lain, Faisal menulis bahwa Nahdlatul Ulama, Ansor, dan Banser "dijual dan dimanfaatkan untuk mendukung kepentingan para kelompok anti-Islam" untuk harga Rp 1,5 triliun. Penjualnya adalah SAS dan pemodalnya adalah para taipan.

Unggahan disertai foto Ketua NU Said Agil Siraj yang kalau diinisialkan adalah SAS.

Untuk menguatkan tuduhan, disertai sebuah berita daring. Ketika dibaca, berita itu tentang bantuan kredit mikro -- bukan hibah dana -- kepada PBNU senilai Rp 1,5 triliun dari pemerintah -- bukan taipan.

Lalu ada unggahan foto Kapolri dan Menko Polhukam Wiranto dengan tulisan "Apa mereka kebal peluru dan parang? (Maaf hanya tanya) nanti kita #test."

Setelah itu ada unggahan "Kenapa kotak-kotak tidak ada yang teriak bubarkan PKI? Jawab: mana mungkin PKI teriak bubarkan PKI." Dia tidak merinci siapa "kotak-kotak" dimaksud.

PKI resmi sudah dibubarkan 51 tahun yang lalu, dan unggahan itu tidak menyebutkan di mana ada organisasi PKI sehingga bisa dibubarkan lagi.

Selain itu cukup banyak unggahan bernada kebencian terhadap suku dan agama tertentu, serta ajakan kekerasan. Misalnya unggahan pada 17 Juli: "Sekarang bukan lagi jaman adu bacot di medsos tapi lagi trend langsung adu bacok bacokan.. tebas tebasan kepala ayo kapan?"

Faisal dijerat dengan UU Informasi Transaksi Elektronik, UU Penghapusan diskriminasi ras dan etnis, dan KUHP.

Baca juga: Penghina Jokowi di Media Sosial Dibekuk Bareskrim



Sumber: BeritaSatu.com