Blok Masela Dibangun, Bandara Tiakur Dikembangkan

Blok Masela Dibangun, Bandara Tiakur Dikembangkan
Barnabas Nataniel Orno. ( Foto: Istimewa )
Markus Junianto Sihaloho / AB Rabu, 30 Agustus 2017 | 13:57 WIB

Jakarta - Bupati Maluku Barat Daya, Barnabas Nathaniel ‎Orno, mengaku sudah menandantangani kesepakatan dengan kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) soal rancangan pembangunan wilayah bila blok migas Masela dibangun. Kesepakatan itu diharapkan akan ditaati pada masa mendatang.

Kesepakatan itu, antara lain menyangkut pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan bersertifikasi internasional, pembangunan sebuah dermaga untuk kebutuhan blok Masela, serta pengembangan Bandara Tiakur. Kebutuhan logistik berupa sayur, ikan, dan daging, juga diprioritaskan dipasok dari Maluku Barat Daya.

"Ini demi memastikan adanya dampak sosial ekonomi bagi warga di Maluku Barat Daya," jelasnya.

Kabupaten Maluku Barat Daya dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat sempat berebut lokasi pembangunan kilang darat blok Masela. Akhirnya diputuskan dibangun di wilayah Maluku Tenggara Barat.

Menurut Bupati Barnabas, pihaknya akhirnya bersedia menerima putusan tersebut karena sudah ada kesepakatan dengan SKK Migas.‎ "Kesepakatan dengan kepala SKK Migas, semua hitam di atas putih," kata Barnabas di sela-sela acara rapat koordinasi bidang kemaritiman DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Selasa (29/8).

Sesuai pembicaraan dengan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi yang berkunjung ke tempatnya, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya diharapkan mendukung penetapan pembangunan pabrik di Saumlaki. Barnabas pun setuju dengan semangat agar tidak ada lagi keributan mengenai lokasi blok Masela.

Rakyat Maluku Barat Daya, lanjutnya, akan mengingat terus kesepakatan bersama yang dibuat dengan SKK Migas.

"Kalau kesepakatan dilaksanakan, ini semua akan berhasil. Kalau tidak, Tuhan Allah di surga akan melihat, pasti akan bermasalah," katanya

Ke depan, lanjut Barnabas, setidaknya ada empat blok migas lagi yang akan dibangun. Dua perusahaan multinasional sudah tertarik menggarapnya, yakni Inpex dan Shell. Warga di wilayahnya tak mempermasalahkan adanya investasi asing, asal diatur dengan baik dan sesuai kesepakatan yang ada. 


.



Sumber: BeritaSatu.com