Sering Buat Komitmen Antiradikalisme, Rektor IPB Minim Terobosan

Sering Buat Komitmen Antiradikalisme, Rektor IPB Minim Terobosan
Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang, Kota Bogor. ( Foto: Beritasatu.com/Vento Saudale )
PR / HS Sabtu, 2 September 2017 | 18:14 WIB

Jakarta – Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu kampus yang belakangan paling disorot terkait aktivitas radikalisme ideologi yang berseberangan dengan Pancasila. Dalam sejumlah kesempatan, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto juga sering menyampaikan komitmen untuk memberantas radikalisme dalam lingkungan kampus. Sayangnya, tekad tersebut belum diikuti dengan terobosan yang nyata.

Wakil Sekjen Komunitas Alumni IPB (KA IPB) Yayat DN di Jakarta, Sabtu (2/9) mengatakan tekad pimpinan IPB secara terbuka untuk memberantas radikalisme perlu diberi apresiasi. “Komitmen seperti itu perlu terus didorong karena hampir dua dekade IPB menjadi basis radikalisme tersebut,” kata jebolan Fakultas Teknologi Pertanian ini.

Apalagi, kata dia, Rektor IPB juga telah menjadi pelopor atau menjadi kampus terdepan dalam menyerukan antiradikalisme tersebut. Setidaknya, dalam tiga bulan terakhir, Rektor IPB tampil dalam beberapa forum perguruan tinggi (PT) tingkat nasional untuk mencegah gerakan radikalisme.

Salah satunya, pada Jumat (14/7) lalu, Rektor IPB Herry Suhardiyanto bersama dengan pimpinan dari 44 perguruan tinggi mendeklarasikan gerakan antiradikalisme di kampus Universitas Padjadjaran, Bandung. Herry membacakan pernyataan sikap deklarasi tersebut dan menegaskan radikalisme perlu dicegah agar tidak mengganggu perjalanan bangsa.
"Kami berkomitmen mengambil peran aktif untuk mencegah radikalisme, agar tidak ada komponen kampus yang memaksakan kehendak apalagi melakukan tindakan radikal," ujar Herry saat itu.

Dia menegaskan, perguruan tinggi melakukan tugas mendidik mahasiswa, melakukan inovasi, dan pengabdian pada masyarakat.
"Kami juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran faham atau gerakan radikalisme, terorisme atau ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945," katanya di hadapan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir.

(Baca : 44 Rektor Perguruan Tinggi Jabar Deklarasikan Anti Radikalisme)

Selain di Bandung, Rektor IPB Herry Suhardiyanto bersama dengan 93 rektor yang tergabung dalam Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) kembali menyatakan tekad untuk mencegah kampus dari paham radikalisme. Komitmen Rektor IPB pada forum MRPTNI itu disampakan di Merauke, Papua, Rabu (23/8), dalam Deklarasi Kebangsaan. Lagi-lagi ditegaskan bahwa kampus bukan basis radikalisme dan para rektor mengikrarkan kesetiaan pada Pancasila, UUD-45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

“Menjaga perguruan tinggi dari radikalisme dan segala bentuk gerakan yang mengancam Pancasila, NKRI, UUD-1945, dan Bhineka Tunggal Ika,” demikian salah satu butir deklarasi. Penandatanganan deklarasi itu disaksikan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad yang mewakili Menristekdikti dan sejumlah pejabat terkait.

Menurut Yayat, berbagai pernyataan Rektor IPB dalam forum-forum nasional itu seharusnya diikuti dengan aksi nyata dalam kampus IPB. “Jangan sampai tampil terdepan agar dilihat publik, tetapi tidak ada perubahan yang dilakukan dalam kampus. Kita berharap dalam sisa waktu kepengurusannya, ada terobosan yang berarti,” kata mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini.

Sebagaimana diketahui, jabatan Rektor IPB Herry Suhardiyanto bakal segera berakhir pada tahun ini. Herry telah menjabat dua periode sebagai Rektor IPB dan saat ini sedang dilakukan seleksi atas sejumlah calon rektor baru. Jika sesuai jadwal yang beredar, pada awal November 2017 nanti  sudah terpilih rektor pengganti Herry Suhardiyanto.



Sumber: BeritaSatu.com