Megawati ‎Pernah Mengepel Lantai Museum Nasional

Megawati ‎Pernah Mengepel Lantai Museum Nasional
Museum Nasional Indonesia. ( Foto: Beritasatu.com/Herman )
Markus Junianto Sihaloho / HA Kamis, 30 November 2017 | 18:33 WIB

Jakarta - Buku baru mengenai sejumlah hal yang belum terkuak di era Pemerintahan Proklamator RI, Soekarno, diluncurkan di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (30/11). Peluncuran yang dihadiri Presiden RI Kelima sekaligus putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri, ternyata sengaja dilaksanakan di Museum Nasional.

Seperti disampaikan oleh Bonnie Triyana, Pemimpin Redaksi Historia.id yang menuliskan substansi buku-buku itu, Megawati sangat mencintai sejarah dan museum.

"Bahkan Ibu Megawati pernah menjadi sukarelawan di Museum Nasional ini. Maka kita bikin peluncuran buku di tempat ini," kata Bonnie.

Saat acara digelar, tiang-tiang besi berdiri di sekitar lokasi karena kompleks Museum Nasional memang sedang diperbaiki dan diperluas.

Megawati, yang berbicara setelah Bonnie, mengakui bahwa dirinya punya keprihatinan khusus soal museum di Indonesia. Banyak yang menyebut bahwa museum di Indonesia kuno dan kurang pemeliharaan. Ketika pernah menjabat sebagai wakil presiden dan presiden, dia mendorong program pembangunan Museum Nasional.

"Ini bagian dari upaya kita bersama agar museum di Indonesia diminati lokal dan mancanegara," kata Megawati.

Pada kesempatan itu dia mengaku bahwa memang pernah menjadi sukarelawan di Museum Nasional. Waktu itu, Megawati mendapat informasi soal Yayasan Ganesha Society yang bergerak di bidang seni budaya mengeluhkan soal kumuhnya museum itu lalu membuka lowongan bagi sukarelawan yang bersedia membersihkan dan mendata ulang koleksinya.

"Ternyata banyak gudang-gudang yang belum dibuka, dan kamilah para ibu yang ikut membantu membuka gudang itu," kata Megawati.

"Saya mengambil bagian keramik, pakaian, patung. Banyak peminatnya dan kami bergotong royong, ngepel," tambah Megawati.

Selain Museum Nasional, Megawati juga mengaku terlibat dalam perbaikan Gedung Arsip Nasional. Diakuinya, soal sejarah dan data adalah kesenangannya selain menanam serta merawat tanaman dan binatang. Baginya, sejarah, data, museum dan perpustakaan, akan mendorong anak bangsa senang membaca, menulis, bukan sekedar mendengar.

Di acara itu, hadir sejumlah tokoh penting nasional dan petinggi PDI Perjuangan. Seperti mantan wakil presiden Try Sutrisno, mantan Wakil Gubernur Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Wakil Sekjen PDI Perjuangan Eriko Sotarduga, dan dua Ketua DPP PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan serta Nusyirwan Sujono.



Sumber: BeritaSatu.com