Program DMPA Tekan Titik Panas dan Kebakaran Lahan di Kalimantan

Program DMPA Tekan Titik Panas dan Kebakaran Lahan di Kalimantan
Sinar Mas Agribusiness and Food telah menyelesaikan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang tercatat mengurangi titik panas dan kebakaran di 17 desa di Kalimantan Barat dan Jambi. ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 15 Februari 2018 | 19:04 WIB

Jakarta - Sinar Mas Agribusiness and Food telah menyelesaikan program Desa Makmur Peduli API (DMPA) yang tercatat berhasill memangkas titik panas dan kebakaran di 17 desa di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Jambi. Pada tahun 2017, jumlah titik panas dan titik api di desa peserta Program DMPA telah menurun menjadi 13 titik panas dan 9 titik api dari 25 titik panas dan 7 titik api pada tahun 2016, dan 423 titik panas dan 271 titik api pada tahun 2015.

Pada tahun yang sama, program ini diperluas dengan menambahkan program pengembangan masyarakat yang berfokus pada pengembangan plot pertanian organik. Program ini memungkinkan penduduk desa menanam berbagai menanam berbagai macam sayuran utk kebutuhan pangan dan memberikan sumber pendapatan tambahan melalui penjualan pertanian ke pasar lokal di Kalbar.

CEO Perkebunan Sinar Mas Wilayah Kalbar, Susanto Yang, program DMPA yang dimulai pada tahun 2016, telah berhasil meminimalkan kebakaran pada tahun 2017.

"Selain fokus pada pencegahan kebakaran, kami melihat kebutuhan masyarakat yang lebih luas dari desa binaan khususnya yang di Kalimantan Barat. Kami mengembangkan Pertanian Ekologi Terpadu untuk membantu mendidik masyarakat desa tentang metode pertanian organik berkelanjutan yang dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan gizi mereka sendiri, memastikan ketahanan pangan dan mendukung pembangunan ekonomi," kata Susanto dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Kamis (15/2).

Ilustrasi Kebakaran Lahan

Susanto mengatakan, sejauh ini sudah ada tiga desa percontohan dengan lebih dari 60 anggota petani bergabung dengan inisiatif perusahaan, dengan 70 persen di antaranya adalah perempuan. "Kami berharap dengan bimbingan ini, para petani dapat menduplikasi proses tersebut di kebun mereka sendiri," jelasnya.

Menurutnya, para peserta program PET maupun keluarga mereka telah menikmati manfaat dari program ini. Setiap keluarga mampu menghemat hingga Rp 300.000 per bulan dari pemotongan belanja sayuran dan rempah-rempah yang sekarang bisa mereka ambil dari kebun mereka sendiri.

"Selain itu, mereka menerima Rp 500.000 setiap bulannya dengan menjual sayuran ke desa-desa sekitar dari PET, setelah dikurangi untuk kebutuhan pangan keluarga mereka," tambahnya.

Sebanyak 8 dari 17 desa binaan di Kecamatan Nanga Tayap mendapatkan bantuan infrastruktur senilai total Rp 600 juta sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya desa tersebut dalam menjaga kebakaran di daerah mereka di tahun 2017. Desa-desa tersebut adalah Tajok Kayong, Nanga Tayap, Lembah Hijau 1, Lembah Hijau 2, Siantau Raya, Sungai Kelik, Simpang Tiga Sembelangaan dan Tanjung Medan yang berada di Kabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat.

Susanto menambahkan, program DMPA telah mengurangi kebakaran di hutan, perkebunan dan lahan di daerah sekitar operasional.

"Pencapaian ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kerja sama Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, Masyarakat Siaga Api, anggota masyarakat petani dan pemerintah daerah untuk mengatasi tantangan bersama, mencegah dan menekan api dengan cepat. Kami ingin mengulangi kesuksesan ini di tahun 2018 dan mengajak semua pihak untuk tetap waspada disaat kita memasuki musim kering dan terus melindungi hutan dan masyarakat kita," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com