Generasi Phi, Generasi Bingung?
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 515.321 (-2.12)   |   COMPOSITE 6289.65 (-47.85)   |   DBX 1346.19 (-12.68)   |   I-GRADE 181.205 (-1.35)   |   IDX30 507.3 (-3.78)   |   IDX80 137.13 (-1.34)   |   IDXBUMN20 404.453 (-5.99)   |   IDXESGL 139.923 (-0.37)   |   IDXG30 143.928 (-0.43)   |   IDXHIDIV20 446.912 (-3.18)   |   IDXQ30 145.336 (-0.95)   |   IDXSMC-COM 297.691 (-2.23)   |   IDXSMC-LIQ 363.216 (-3.08)   |   IDXV30 137.088 (-3.12)   |   INFOBANK15 1041.31 (-5.34)   |   Investor33 435.377 (-2.34)   |   ISSI 184.679 (-1.32)   |   JII 634.506 (-3.05)   |   JII70 224.071 (-1.43)   |   KOMPAS100 1224.8 (-8.57)   |   LQ45 952.541 (-7.79)   |   MBX 1705.32 (-12.44)   |   MNC36 322.487 (-1.62)   |   PEFINDO25 325.966 (4.31)   |   SMInfra18 310.375 (-3.1)   |   SRI-KEHATI 370.053 (-2.69)   |  

Memahami Generasi Milenial

Generasi Phi, Generasi Bingung?

Sabtu, 24 Februari 2018 | 11:52 WIB
Oleh : Dina Fitri Anisa / AB

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.” (Neson Mandela)

Kalimat tersebut sering kali terdengar di beberapa tempat dan kesempatan. Mungkin saat belajar di kelas, seminar motivasi, ataupun diskusi. Lalu timbullah pertanyaan, pemuda seperti apakah yang bisa memimpin dan mengubah Indonesia untuk menjadi negara yang maju?

Dewasa ini, generasi muda yang kerap disebut sebagai generasi milenial tengah menjadi perbincangan. Dari berbagai obrolan, yang kerap terdengar adalah hal-hal negatif tentang generasi milenial. Mereka disebut asosial, tak punya loyalitas, individualis, dan masih banyak cap negatif lainnya yang dilontarkan.

Anggapan negatif itu bisa muncul karena generasi yang senior acapkali salah tafsir terhadap generasi milenial. Bukan karena kurang informasi dan data, melainkan karena kurang cermat melihatnya.

Tak mau suasana semakin keruh, Komunitas Perempuan Kebaya, Kopi, dan Buku menggelar diskusi bertema "Jebakan Milenial" di FX Sudirman, Jakarta, Jumat (23/2). Kali ini, diskusi menghadirkan dua pembicara, yaitu pendiri Youth Laboratory Indonesia, Muhammad Faisal dan Direktur Andal Software, Indra Sosrodjodo.

Diskusi ini diawali dengan pemaparan oleh Muhammad Faisal. Dia menjelaskan tentang pengertian generasi milenial yang diangkat sebagai tema diskusi. Menjalani sebuah biro riset anak muda pertama di Indonesia, Faisal mengaku lebih suka menggunakan sebutan generasi fi (phi, nama huruf ke-21 dalam abjad Yunani) daripada generasi milenial.

“Saya tidak gunakan sebutan generasi milenial, karena kesannya over judge. Huruf phi sendiri digunakan dalam ilmu biologi dan juga matematika sejak zaman Yunani kuno. Phi juga disebut sebagai golden ratio yang menyimbolkan harmoni dan kesempurnaan. Dalam arti, generasi milenial di Indonesia saat ini menampilkan dua sifat itu, harmoni dan kesempurnaan,” terangnya.

Perbedaan karakter dan sudut pandang dengan beberapa generasi sebelumnya membuat generasi phi “terlihat salah”. Namun, pada kenyataannya tidak demikian. Dalam buku Generasi Phi yang ditulis Faisal, antara lain tertulis,"Tidak pernah ada karakter generasi yang benar-benar baru. Karakter generasi adalah kolektif yang diwariskan dari generasi terdahulu.”

Dengan demikian, menurutnya, sebuah karakter terbentuk karena situasi sosial ataupun politik yang terjadi saat sebuah generasi dibesarkan. Dalam kurun waktu yang berjarak 30 tahun, hadir tiga generasi sebelum phi. Pertama, generasi "alfa", yakni angkatan Soekarno, Tan Malaka, dan Sutan Syahrir. Mereka adalah founding fathers Indonesia. Dalam persoalan karakter, mereka adalah sosok yang memiliki sifat profektif.

Generasi kedua adalah "beta", yakni angkatan Adam Malik, Soeharto, dan Bung Tomo, yang lebih memiliki sifat heroik. Generasi ketiga disebut "omega", yang diisi oleh Iwan Fals, Rano Karno, Roy Marten, dan lain-lain. Dalam diri mereka terbenam rasa adaptif dan kompetitif, karena keterbatasan ruang berekspesi.

Sedangkan generasi phi adalah mereka yang lahir sekitar 1982 sampai 2004, (18-24 tahun). Menurut Faisal, phi adalah simbol yang mewakili generasi milenial yang kerap diangap irasional dalam bertindak. Mereka lahir dalam keadaan sosial-politik yang dipenuhi dengan perkembangan digital, radikalisme, korupsi besar dalam pemerintahan, dan pasar bebas. Generasi phi lebih cenderung tertarik pada industri kreatif dan mempunyai minat pada dunia politik.

“Generasi phi saat ini memiliki kecenderungan untuk tidak masuk ke dalam struktur pemerintahan. Mereka lebih senang melahirkan gerakan independen dan aksi kreatif yang relatif berbeda dengan gerakan politik masa lalu. Mereka lebih senang membicarakan isu dan sikap politik melalui media sosial,” terangnya.

Perilaku semacam itu, menurut Faisal, tidak buruk. Namun, bila terus dibiarkan, kemungkinan besar akan mengurangi kadar nasionalisme mereka beberapa tahun mendatang. “Mungkin tahun 2039 nanti yang dipilih menjadi presiden adalah seseorang yang mampu mendefinisikan Indonesia itu seperti apa,” katanya.

Selain itu, Faisal melihat generasi muda yang lahir di era digital kini mengalami "kebingungan mental". Mereka mendapatkan banyak informasi, dari yang faktual hingga hoax. Mereka dipaksa untuk mencerna sendiri dan mempersepsikannya sebagai realita. Akibatnya, tak sedikit generasi muda mengalami kebingungan, bahkan frustrasi.

Untuk meminimalisasi dampak negatif perkembangan zaman terhadap generasi muda, Faisal menyatakan peranan komponen mikro, khususnya keluarga, sangat penting. Keluarga bisa menumbuhkan rasa nasionalisme, sekaligus menolak intoleransi dalam diri anak-anak muda. Hal itu bisa dilakukan, antara lain lewat diskusi-diskusi kecil, membangkitkan lagi kesenian lokal, dan juga melakukan pendekatan personal.

“Saya yakin budaya dapat menjadi jembatan penyambung persepsi dan pemahaman antargenerasi, serta mengurangi jurang prasangka dan steriotip,” ujar Faisal.

Hal senada disampaikan Indra. Dia mengaku kerap menemukan “kebingungan” yang menyelimuti generasi milenial. Dia juga mengaku cukup sulit menghadapi generasi milenial yang tak tentu arah. Bahkan, dirinya pun sulit mencari pegawai muda yang tertarik dengan perusahaannya yang bergerak di bidang teknologi dan informasi.

“Kalau anak muda berkata sulit cari pekerjaan, kita pun sama. Sulit cari pekerja muda yang memiliki tujuan hidup ke depan. Kebanyakan dari mereka bingung ketika ditanya mau jadi apa 10 tahun ke depan. Karena, mereka lebih mengejar passion daripada karier,” terangnya.

Untuk merangkul generasi milenial, Indra mengaku terus melakukan pendekatan personal kepada para pegawai-pegawai muda di kantornya. Sebagai atasan, dirinya mencoba untuk lebih terbuka, sehingga bisa mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan generasi milenial dalam merintis karier.

“Ya, saya lakukan tanpa adanya batasan bos dengan karyawan. Setelah saya lakukan itu, mereka (generasi milenial) jadi lebih terbuka. Di sanalah saya mengedukasi mereka, untuk tetap berjalan terstruktur dan mereka pun mampu menentukan arah kehidupan mereka,” terangnya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Aksi Bersih Sampah Dilakukan di 100 Titik di Bali

Aksi ini mengajak 25.000 orang

NASIONAL | 24 Februari 2018

Debit Air Danau Lindu Turun Drastis

Air danau semakin turun, sehingga nelayan terpaksa menangkap ikan di tempat yang lebih dalam.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Tangkal Hoax, Pramuka Buat Pasukan Siber

Pasukan siber akan mendapat pembekalan dari para jurnalis.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Korupsi Sarana Produksi Pertanian

Kasus ini merugikan keuangan negara sebesar Rp 3,506 miliar.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Cuaca Ekstrem, BPBD Bengkulu Imbau Warga Waspadai Banjir dan Longsor

"Dengan kewaspadaan, bila terjadi bencana longsor dan banjir, korban yang timbul dapat diminimalisasi," kata Kepala BPBD Bengkulu, Sumarno.

NASIONAL | 24 Februari 2018

KAI Operasikan Kereta Luar Biasa Purwokerto-Kroya

Calon penumpang tujuan Jakarta dari Purwokerto diangkut menggunakan KLB relasi Purwokerto-Kroya.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Metode Hafal Alquran Ala Gaza Akan Diterapkan di Indonesia

Sadaqa bekerja sama dengan Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) akan menerapkan metode baru penghafalan Alquran yang telah berhasil dilakukan di Gaza, Palestina.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Polemik UU MD3, Tak Adil jika Tanggung Jawab Diarahkan ke Jokowi

Perppu bukan tanpa masalah karena proses selanjutnya tetap saja akan melibatkan DPR yang sudah mengesahkan UU MD3.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Jalur Kereta Cirebon-Tegal Belum Bisa Dilewati

Penumpang mengalihkan perjalanan menggunakan bus.

NASIONAL | 24 Februari 2018

Melawan, Bandar Narkoba di Merangin Ditembak

Penangkapan tujuh tersangka kasus narkoba tersebut berhasil dilakukan melalui Operasi Antik Siginjai 2018 di Kabupaten Merangin dua hari terakhir.

NASIONAL | 24 Februari 2018


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS