Wiranto: Indonesia Mampu Rekonsiliasi Mantan Teroris dengan Korban

Wiranto: Indonesia Mampu Rekonsiliasi Mantan Teroris dengan Korban
Wiranto. ( Foto: Antara )
Robertus Wardi / AO Rabu, 28 Februari 2018 | 23:26 WIB

Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengaku bahagia karena Indonesia mencetak sejarah baru yaitu mampu melakukan rekonsiliasi antara mantan teroris dengan korban tindakan teroris. Rekonsiliasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan termasuk yang pertama di dunia.

"‎Ini membahagiakan sekali. Ini baru pertama kali kita lakukan. Bahkan untuk dunia, ini yang pertama kali," kata Wiranto dalam acara silahturami NKRI di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (28/2). Dijelaskan, Indonesia sudah dikenal oleh negara-negara lain yang paling berhasil memberantas terorisme

Banyak negara yang ingin belajar dari Indonesia untuk mengatasi teroris. Beberapa negara malah sudah belajar dari Indonesia. Menurutnya, Indonesia menganut dua pendekatan dalam penindakan terorisme yaitu pendekatan keras (hard power) dan pendekatan lunak (soft power). Hard power berupa pencarian, menangkap dan menindak pelaku. Sementara soft power berupa tindakan pencegahan lewat kegiatan deradikalisasi.

Dia menegaskan untuk melengkapi dua pendekatan tersebut maka dibuatlah cara lain yaitu rekonsiliasi antara pelaku dan korban. Rekonsiliasi untuk menyadarkan para pelaku dan meminta maaf kepada korban atas apa yang telah dibuat. Sementara, untuk korban diharapkan bisa memberi maaf kepada para pelaku dan tidak menyimpan dendam berkepanjangan.

"Kita ingin lakukan kegiatan secara komprehensif, dari hulu hingga ke hilir. Kita tidak mau hanya di hilir saja yaitu cari dan tangkap. Apa yang kita lakukan hari ini adalah upaya-upaya dari hulu untuk memberantas terorisme," jelas Wiranto. Dia menambahkan ke depan, direncanakan supaya ada satu komunitas kerja bersama antara pelaku dengan korban.

Hal itu untuk mendorong mereka membaru dan melupakan kejadian masa lalu. "Kita akan bangun kerja nyata untuk memberdayakan mereka. Suatu komunitas bersama," tutup Wiranto.

Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengemukakan sebanyak 124 mantan narapidana terorisme dan 51 korban teror berpartisipasi dalam acara tersebut. Silaturahmi sebagai tanda keterbukaan diri dari para korban maupun mantan narapidana terorisme.

Menurutnya, kegiatan yan ada untuk menyebarkan semangat perdamaian dan saling menghormati antara pelaku dan korban. Perdamaian adalah kunci dan menjadi perekat dalam semangat menumbuhkan toleransi. "Kami undang lebih dari 1.000 orang tetapi yang hadir baru segini. Ini sifatnya sukarela. Kami bisa memahami karena ‎tidak semua orang bisa begitu cepat menghilangan trauma masa lalunya. Mungkin masih ada yang menyimpan dendam," ujar Alius.



Sumber: Suara Pembaruan