Logo BeritaSatu

Anak-anak Rentan Terpapar Paham Radikal dan Terorisme

Selasa, 15 Mei 2018 | 22:55 WIB
Oleh : Dina Manafe / AO

Jakarta - Aksi teror bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur, menimbulkan keresahan masyarakat Indonesia dan internasional. Fenomena lain yang mengejutkan adalah pelibatan keluarga, perempuan, dan anak-anak dalam aksi sadis tersebut. Mereka sesungguhnya adalah korban dari orangtua dan lingkungannya.

Pemerhati anak sekaligus Ketua Indonesia Child Protection Watch (ICPW), Erlinda mengungkapkan fakta-fakta mengapa seorang anak dan perempuan terlibat dalam aksi teror ini. Dari aspek psikologis, menurut dia, anak sangat mudah dilibatkan pada hal apa pun, termasuk aksi terorisme.

Hal ini dikarenakan beberapa hal. Pertama, orangtua mempunyai peran penting dalam fase pembentukan karakter anak. Pola pikir anak dipengaruhi oleh orang terdekat, terutama orangtua. "Sangat mudah bagi orangtua untuk menanamkan paham radikal kepada anaknya sejak usia dini. Sementara, pengambil keputusan pada anak juga sangat bergantung pada orangtua," kata Erlinda di Jakarta, Selasa (15/5).

Saat beranjak remaja, kemampuan adaptasi anak mudah dipengaruhi oleh nilai-nilai yang didapatnya dari lingkungan sosial dan keluarga saat masih kecil. Keluarga adalah pihak pertama yang memberikan dasar-dasar nilai bagi anak. Perilaku tindak kriminal oleh anak dan remaja merupakan akibat dari aspek psikososial. Anak remaja mempunyai karakteristik yang unik, karena mereka memasuki masa transisi, yakni periode anak-anak menuju dewasa.

Remaja berada pada masa badai topan (strum and drung), artinya mempunyai jiwa yang meletup-letup dan ingin diakui keberadannya. Ciri khas remaja adalah belum memilki identitas yang jelas dan sedang mengalami krisis identitas.

Sementara, perempuan juga mudah dilibatkan dalam aksi teror dikarenakan beberapa hal. Berdasarkan teori sosial kognitif psikolog Albert Bandura, ada hubungan antara pribadi, lingkungan, dan tingkah laku yang saling memengaruhi. Pada saat diikat perkawinan, perempuan sangat mudah dipengaruhi, karena faktor taat pada suami.

Ada ikatan yang kuat pada hubungan suami-istri, sehingga perempuan menjadi pengikut setia dan selalu merasakan hal yang sama oleh suatu doktrin. Masih kuatnya budaya patriarki di Indonesia, bahwa perempuan harus menurut pada laki-laki di mana perempuan dianggap lemah, juga menjadi faktor pencetus.

Erlinda yang juga Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2014-2017 itu mengatakan, perempuan juga dilibatkan dikarenakan aspek humanis, di mana selalu ada rasa iba dan kasihan jika menyakiti perempuan. Kaum perempuan tidak akan dianiaya jika menjadi pelaku. "Perempuan lebih aman dan cenderung tidak dicurigai dibandingkan laki-laki. Seorang ibu atau perempuan sangat dekat dengan anak, sehingga mudah melakukan indoktrinasi pada anak dan orang lain," ujarnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Amerika Serikat Sumbang Ukraina Rp 22,7 Triliun Per Bulan

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) menyumbang US$ 1, 5 miliar (Rp 22,7 triliun) per bulan.

NEWS | 28 September 2022

Raja Salman Tunjuk Pangeran Mohammed Jadi PM Arab Saudi

Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud memerintahkan pengangkatan Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai Perdana Menteri Arab Saudi

NEWS | 28 September 2022

Bali Targetkan 45.000 Hektare Pertanian Organik Akhir 2022

Gubernur Bali Wayan Coster menargetkan seluruh pertanian di wilayahnya mampu menggunakan sistem pertanian organik yang ramah terhadap lingkungan.

NEWS | 28 September 2022

Kapal Tenggelam di Bangladesh, 66 Orang Peziarah Tewas

Sejumlah 66 peziarah Hindu tewas setelah kapal tenggelam di Sungai Karatoa, Bangladesh

NEWS | 28 September 2022

BNPT RI Bersama Pemkab Morowali Resmikan KTN 7 Hektare

BNPT bekerja sama dengan Pemkab Morowali meresmikan Kawasan Terpadu Nusantara di Desa Bahoea Reko-Reko sebagai sarana deradikalisasi.

NEWS | 28 September 2022

Polemik Tunjangan Profesi Guru, Ini Pasal Kontroversial RUU Sisdiknas

Salah satu pasal yang paling disoroti RUU Sisdiknas, yakni terkait hilangnya frasa tunjangan profesi guru (TPG) dari batang tubuh RUU Sisdiknas. 

NEWS | 28 September 2022

Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 27 September 2022

Berikut ini Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Kasus & Kematian Covid-19 di Jakarta, 27 September 2022

Berikut ini Data Kasus & Kematian Covid-19 di Jakarta, 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Kasus Aktif Covid-19 Nasional sampai 27 September 2022

Berikut ini Data Kasus Aktif Covid-19 Nasional sampai 27 September 2022 sesuai dengan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022

Data Prevalensi Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022

Berikut ini Data Prevalensi Covid-19 di 10 Provinsi, 27 September 2022 sesuai denan data dari Kementerian Kesehatan.

NEWS | 27 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Eks Pegawai KPK Rasamala Aritonang Jadi Pengacara Sambo, Ini Alasannya

Eks Pegawai KPK Rasamala Aritonang Jadi Pengacara Sambo, Ini Alasannya

NEWS | 4 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings