Umat Buddha Sumatera Akan Rayakan Waisak di Candi Muarojambi

Umat Buddha Sumatera Akan Rayakan Waisak di Candi Muarojambi
Ritual pelepasan 1.000 buah lampion para perayaan Waisak 2561 Buddha Earth (BE) di Situs Purbakala Candi Muarojambi, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, 10 Mei 2017 malam menjadi salah satu daya tarik wisata di objek wisata Candi Muarojambi. ( Foto: BeritaSatu Photo/Radesman Saragih )
Usmin / YUD Senin, 28 Mei 2018 | 07:48 WIB

Jambi - Umat Buddha se-Sumatera akan merayakan hari raya Waisak 2562 BE (Buddha Earth) di situs purbakala Candi Muarojambi, Desa, Kecamatan, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Selasa (29/5). Puncak perayaan Waisak 2018 yang tersebut akan dihadiri sekitar 5.000 orang umat Buddha dari Provinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan dan Lampung.

“Perayaan Waisak se-Sumatera di Candi Muarojambi sudah siap kami gelar. Sebagian besar umat Buddha dari berbagai provinsi di Sumatera yang akan mengikuti perayaan trisuci Waisak sudah berada di Kota Jambi. Sebagian lagi tiba di Kota Jambi hari ini, Senin (28/5). Puncak perayaan Waisak di Candi Muarojambi tersebut dilaksanakan Selasa (29/5) siang,” kata Ketua Panitia Perayaan Waisak 2562 BE/2018 se-Sumatera, Rudhi Zhang di Jambi, Senin (28/5).

Menurut Rudi Zhang, ritual Waisak 2562 BE yang dilaksanakan di Candi Muarojambi, yakni Soka Gakkai, Nichiren Soshu, Mahayana Tiongkok, Theravada, Vajrayana dan Tantrayana Chen Fo Zhong. Selain itu pada perayaan Waisak di Candi Muarojambi itu juga digelar penyalaan seribu lampion, pementasan seni drama tari (sendratari) “The Journey 0f Attisa”.

Sendratari tersebut menggambarkan perjalanan guru Buddha asal India terhadap ajaran tertinggi Buddha, yakni Bodhicitta yang ditemukan di Candi Muarojambi. Ajaran tertinggi Buddha tersebut ditemukan guru India tersebut dari seorang Guru Besar Buddha Asli Indonesia keturunan Wangsa Syailendra, yaitu Serlingpa Dharmakirti.

“Kalau Candi Prambanan di Yogyakarta memiliki sendratari Ramayana, maka Candi Muarojambi di Provinsi Jambi memiliki sendratari Journey of Attisa,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, prosesi ritual Waisak di Jambi sudah dimulai awal April lalu dengan pengambilan air suci dari Danau Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci. Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan Api Puja Abadi dari Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi. Seluruh prosesi perayaan Waisak di Candi Muarojambi dipimpin puluhan biksu atau pendeta Buddha dari Jambi dan berbagai daerah di Sumatera.

Secara terpisah, Kepala Seksi Humas Perayaan Waisak 2562 BE se-Sumatera, Hartadinata mengatakan, untuk menjamin kelancaran perayaan Waisak se-Sumatera di Jambi, pihaknya berkoordinasi dengan segenap jajaran keamanan dari Polda Jambi dan Komando Rayon Militer (Korem) 042/Garud Putih (Gapu) Jambi.

“Jumlah personil polisi dan TNI yang dikerahkan mengamankan perayaan Waisak 2562 se-Sumatera di Candi Muarojambi mencapai 500 orang. Kami juga berharap segenap warga masyarakat dan umat beragama di Jambi turut mendukung iklim kondusif pada perayaan Waisak ini,” ujarnya.

Dikatakan, perayaan Waisak 2562 BE di Candi Muarojambi dilaksanakan atas kerjasama Perkumpulan Umat Buddha (PUB) Jambi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi. Perayaan Waisak di situs purbakala terluas di Asia tersebut dimaksudkan sebagai salah satu promosi wisata sejarah dan religi Candi Muarojambi di tingkat regional Sumatera, nasional dan internasional.

“Kehadiran sekita 5.000 orang umat Buddha se-Sumatera pada perayaan Waisak di Candi Muarojambi sudah menjadi salah satu promosi situs bersejarah tersebut. Umat Buddha yang datang dari daerah lain nantinya akan menjadi duta-duta promosi wisata Candi Muarojambi di daerah masing-masing,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan