Ini Kesaksian Korban Selamat dari KM Sinar Bangun

Ini Kesaksian Korban Selamat dari KM Sinar Bangun
Ribuan masyarakat menyaksikan proses pencarian oleh petugas terhadap puluhan penumpang Kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba. ( Foto: Beritasatu Photo / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / YUD Selasa, 19 Juni 2018 | 06:56 WIB

Samosir - Juita Sumbayak, salah seorang dari korban selamat dalam musibah Kapal KM Sinar Bangun mengungkapkan kesaksiannya setelah berhasil selamat dari musibah tersebut. Seperti diketahui KM Sinar Bangun terbalik setelah berangkat dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, di perairan Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut).

Wanita malang yang berada di dalam KM Sinar Bangun bersama 18 orang keluarganya (belum ditemukan), mengungkapkan, kelebihan kapasitas menjadi salah satu penyebab terbaliknya kapal maut tersebut. Saat itu, kondisi cuaca di tengah perairan Danau Toba tersebut memang kurang baik.

"Ada angin kencang disertai ombak yang lumayan besar menghantam. Saat itu, kapal langsung oleng ke arah kanan dan langsung terbalik. Penumpang kapal itu sangat banyak, ada sekitar 200 orang," ujar Juita di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hadrianus Sinaga, Pangururan, Selasa (19/6).

Juita mengatakan, dirinya bisa selamat karena memeluk helm selama berada di tengah perairan Danau Toba tersebut. Helm yang dipeluk itu membuat dirinya terus bisa mengapung. Juita mengaku diselamatkan oleh awak kapal Feri yang melintas tidak jauh dari kapal yang tenggelam tersebut.

"Ada petugas kapal Feri yang melemparkan tali ke arah saya. Setelah tali itu kuraih, mereka langsung menarik dan mengangkat saya ke dalam kapal. Ada 18 orang lagi keluarga saya yang berada di Danau Toba, termasuk anak dan suami. Mereka semua tidak bisa berenang," katanya sambil menangis.

Juita tidak mampu membayangkan kondisi penumpang saat seluruhnya tercebur ke tengah danau. Saat itu, semua penumpang kapal menjerit dan berteriak minta pertolongan. Bahkan, dia melihat ada korban tewas setelah terombang - ambing di tengah Danau Toba tersebut.

"Kondisi saat itu sangat mengerikan. Aku sendiri memang sudah pasrah untuk mati. Sepertinya, tidak ada harapan untuk bisa selamat. Aku tidak tau bagaimana nasib keluargaku. Tuhan, mohon selamatkan mereka," kata Juita sembari menangis.



Sumber: Suara Pembaruan