Ini Kaitan Antara Rokok dengan Anak Stunting

Ini Kaitan Antara Rokok dengan Anak Stunting
Saah satu upaya kampanye cegah stunting adalah menghidupkan kembali program pos pelayanan terpadu untuk balita. ( Foto: dok. beritasatu.com )
Herman / YUD Senin, 25 Juni 2018 | 19:38 WIB

Jakarta - Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) meluncurkan hasil penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi rokok pada orang tua dapat mengakibatkan anak stunting, yaitu kondisi kekurangan gizi kronis yang mengakibatkan terganggunya tumbuh kembang anak. Kondisi stunting ini juga disebutkan dapat menyebabkan penurunan kecerdasan atau kognitif anak.

Menurut Anggota Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, perilaku merokok pada orang tua dapat mengakibatkan anak stunting dengan dua cara. Yang pertama melalui asap rokok orang tua perokok yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak.

"Asap rokok dapat mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang anak. Pada ibu hamil yang merokok, suplai makanan ke janinnya juga akan terganggu," kata Bernie Endyarni Medise, di acara peluncuran hasil penelitian PKJS-UI mengenai bahaya konsumsi rokok, di Jakarta, Senin (25/6).

Pengaruh perilaku merokok yang kedua dilihat dari sisi biaya belanja merokok yang membuat orang tua mengurangi jatah biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

"Orang-orang yang sudah adiktif rokok cenderung menggunakan sebagian dana rumah tangga untuk belanja rokok, dan menomorduakan hal lain seperti makanan yang bergizi untuk anak. Akibatnya, kebutuhan gizi anak menjadi tidak tercukupi. Padahal hal tersebut sangat penting, apalagi di 1.000 hari pertama kehidupan anak," papar Bernie.

Dalam penelitian yang dilakukan PKJS-UI ini diperlihatkan, konsumsi rokok sekitar 3,6% pada 1997 telah melonjak menjadi 5,6% pada 2014, sedangkan konsumsi lainnya menurun secara signifikan. Artinya, peningkatan konsumsi rokok sekitar dua persen telah digantikan oleh penurunan pengeluaran beras, protein, dan sumber lemak, serta pendidikan. Pengeluaran rumah tangga untuk daging dan ikan juga menurun sekitar 2,3% selama 1997-2014. Padahal, seperti ditunjukkan dalam banyak penelitian, jenis pengeluaran ini akan memengaruhi perkembangan masa depan anak-anak dalam hal berat badan, tinggi badan, dan kemampuan kognitif.

"Kami mengamati berat badan dan tinggi anak-anak (<= 5 tahun) pada 2007, dan kemudian melacak mereka pada 2014 secara berurutan untuk mengamati dampak perilaku orangtua dan konsumsi rokok pada stunting. Secara mengejutkan, ditemukan anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok kronis serta dengan perokok transien cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok," papar Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI sekaligus penanggung jawab penelitian ini, Teguh Dartanto, PhD.

Teguh menambahkan, penelitian ini juga menegaskan terdapat bukti kuat dan konsisten secara statistik bahwa anak yang memiliki orang tua perokok kronis memiliki probabilitas mengalami stunting 5,5% lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok.

Selain itu, kondisi stunting ini juga akan menyebabkan penurunan kecerdasan atau kognitif anak yang dapat memengaruhi masa depannya kelak. Temuan menarik lainnya adalah peningkatan pengeluaran rokok sebesar 1% akan meningkatkan probabilitas rumah tangga menjadi miskin naik sebesar 6%.



Sumber: BeritaSatu.com