422 Desa di Jatim Dilanda Krisis Air Bersih

422 Desa di Jatim Dilanda Krisis Air Bersih
Ilustrasi kekeringan. ( Foto: Antara / Ari Bowo Sucipto )
Aries Sudiono / JAS Sabtu, 11 Agustus 2018 | 09:04 WIB

Surabaya - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo menegaskan, setidaknya ada 422 desa di 23 kabupaten di provinsi tersebut, sekarang ini dilanda kekeringan. Dari jumlah tersebut sedikitnya ada 199 desa yang wilayahnya benar-benar mengalami kekeringan cukup parah. Jatim sendiri memiliki 38 wilayah kota-kabupaten yang terdiri dari 29 kabupaten dan sembilan kota.

“Dari 422 desa itu yang kekeringan dari 23 kabupaten, yang 199 desa itu areal pertaniannya tidak bisa dikerjakan sehingga perlu dipikirkan cara menanggulanginya,” ujar Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim Soekarwo kepada wartawan usai melantik Pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (10/8).

Lebih lanjut dikemukakan, bahwa di tahun (2018) ini, Pakde Karwo mengaku pihaknya melakukan upaya pada 223 desa dengan membuat sumur air dalam. Namun sisanya, kondisi di 199 desa tidak memungkinkan untuk dibuat sumur bor saja, melainkan harus menggunakan tempat penampungan.

Untuk 223 desa tersebut, Pakde Karwo menargetkan akan selesai tahun (2018) ini. "Selanjutnya tinggal 199 desa yang nantinya dilanjutkan Gubernur Jatim yang baru Bu Khofifah (Indar Parawansa),” katanya.

Pada bagian lain Pakde Karwo memberi contoh kondisi di 199 desa yang belum memungkinkan kecuali membangun faslitas tempat penampungan dan saluran air saja. Sebab, ketika musim penghujan tiba, di 199 desa itu justru airnya langsung meluncur turun alias "lari".

Lebih baik 199 desa itu memakai tempat-tempat penampungan dan saluran air. Kebijakannya itu untuk mengisi tandon air, membangun tempat penampungan air. “Tidak ada lagi solusi karena daun saja nggak bisa hijau di situ,” tandas Pakde Karwo.

Selain itu dari 199 desa tersebut misalnya yang ada di jalur tengah Madura, hingga daerah berkapur. Di kawasan itu praktis tidak ada (sumber mata) air. Ketika musim penghujan tiba, luncuran air langsung meluncur ke daerah bawah berupa banjir sesaat.

“Sesudah hujan berlalu, air hujan pun menghilang karena sedemikian kering kerontangnya kawasan itu,” ujar Pakde Karwo menunjuk contoh daerah Pulau Madura tengah dan pesisir utaranya.

Bondowoso

Sementara itu dari Kabupaten Bondowoso dilaporkan, dari 23 kecamatan di kabupaten itu tercatat 16 di antaranya dalam satu hingga dua bulan terakhir berstatus siaga darurat kekeringan. Krisis air bersih itu diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Sebab, sesuai surat edaran dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau tahun 2018 ini bisa jadi hingga November mendatang.

"Sudah 16 dari 23 kecamatan di Kabupaten Bondowoso yang mengajukan bantuan pasokan air bersih," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bondowoso, Winarto, Sabtu (11/8).

Menurut dia ada 16 kecamatan yang darurat air bersih, terutama untuk kebutuhan rumah tangga. "Hal itu sesuai dengan surat ketetapan bupati tentang status siaga kekeringan yang diterbitkan sejak awal Juli lalu," ujar Winarto sambil menambahkan, jika sampai akhir Agustus masih belum juga ada hujan, status siaga kekeringan itu dipastikan akan diperpanjang.

Pihak BPBD sudah menyiagakan armada untuk menyalurkan air bersih. Selain menyiapkan armada, BPBD juga telah membangun tempat-tempat penampungan air sementara yang berfungsi sebagai tandon air bersama. Bak-bak tandon penampungan air bersih itu dibangun di wilayah Kecamatan Botolinggo dan Kecamatan Klabang.

Trenggalek

Bupati Trenggalek yang juga Wagub Jatim terpilih Emil Elestianto Dardak mengakui bahwa banyak sungai di Trenggalek sekarang ini mengalami penurunan debit air hingga 90 persen. Ia lalu menunjuk Dam Air Widoro, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, saat ini kondisi debit air rata-rata hanya mencapai 170 liter/detik. Padahal pada kondisi musim hujan debit air rata-rata 4-5 meter kubik/detik.

“Kalau di awal musim kering turun menjadi 1-2 meter kubik/detik. Dibanding kondisi sebelumnya penurunan debit air ini mencapai lebih dari 90 persen,” ujar Emil yang menerima laporan dari Zainal Arifin, petugas jaga Pintu Air DAM Widoro, semalam.

Anjloknya debit air Sungai Tawing tersebut mulai terjadi sejak Maret lalu dan saat ini kondisinya terus mengalami penurunan. Pihaknya memprediksi penurunan debit air masih akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan, mengingat saat ini intensitas hujan masih amat rendah.



Sumber: Suara Pembaruan