Kemkes: Kasus Campak Meningkat 5 Tahun Terakhir

Kemkes: Kasus Campak Meningkat 5 Tahun Terakhir
Petugas memberikan vaksin Measless Rubella (MR) kepada pelajar saat acara Pencanangan Kampanye Imunisasi MR. ( Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko )
Dina Manafe / FER Kamis, 23 Agustus 2018 | 21:59 WIB

Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram untuk vaksin campak dan rubella (Measles Rubella/MR) melalui Fatwa Nomor 33/2018 beberapa hari lalu. Namun, MUI tetap membolehkan penggunaan vaksin produksi Serum Institute of India (SII) ini karena alasan adanya kondisi mendesak dan berbahaya.

Jika tidak dilakukan imunisasi MR, maka dampak dari kedua penyakit akan menjadi ancaman dan beban berat bagi Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus campak dan rubella di Indonesia sangat banyak dan cenderung meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah kasus suspek campak-rubella yang dilaporkan antara 2014 sampai dengan Juli 2018 sebanyak 57.056 kasus, di mana 8.964 di antaranya positif campak dan 5.737 positif rubella.

Tahun 2014 tercatat ada 12.943 kasus suspek, terdiri dari 2.241 positif campak dan 906 rubella. Jumlah ini bertambah mencapai 15.104 kasus suspek di 2017, di mana 2.949 di antaranya positif campak, dan 1.341 positif rubella. Hingga Juli 2018 ini sudah tercatat 2.389 kasus suspek, terdiri dari 383 positif campak dan 732 positif rubella.

"Lebih dari tiga per empat dari total kasus yang dilaporkan, baik campak 88 persen maupun rubella 77 persen, diderita oleh anak usia di bawah 15 tahun," kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes), Anung Sugihantono, di Jakarta, Kamis (23/8).

Anung mengatakan, campak adalah penyakit yang sangat mudah menular melalui batuk dan bersin. Ketika seorang terkena campak, 90 persen orang yang berinteraksi erat denganya dapat tertular jika mereka belum memiliki kekebalan terhadap campak. Karena itu imunisasi vaksin MR ini penting untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus ini.

Campak menimbulkan komplikasi berat, seperti pneumonia atau radang paru dan ensefalitis atau radang otak. Akibat fatalnya adalah kematian. Sekitar 1 dari 20 penderita campak akan mengalami komplikasi radang paru, dan 1 dari 1000 penderita akan mengalami radang otak.

"Komplikasi lainnya adalah infeksi telinga yang berujung tuli. Satu dari 10 penderita berakhir tuli, 1 dari 10 penderita akan diare yang membuat mereka harus dirawat di rumah sakit," kata Anung.

Tak kalah bahayanya penyakit rubella. Penyakit ini suka menginfeksi anak-anak. Ketika terinfeksi, anak-anak ini akan menularkan ke ibu hamil di dekatnya. Virus ini terutama menularkan pada masa awal kehamilan atau pada saat pembentukan janin. Akibatnya, bisa terjadi keguguran atau kecacatan permanen pada bayi yang dilahirkan atau dikenal dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS), berupa ketulian, gangguan penglihatan, kebutaan hingga kelainan jantung.

"Data dari 12 rumah sakit yang menjadi sentinel pemantauan kasus CRS selama lima tahun terakhir sampai Juli 2018 telah menemukan 1.660 kasus suspek CRS," kata Anung.

Penyakit campak dan rubella bisa menyerang siapa saja baik laki-laki maupun perempuan. Hingga saat ini belum ada satu pun pengobatan yang dapat mematikan virus rubella yang masuk ke dalam tubuh seseorang. Imunisasi merupakan satu-satunya upaya yang bisa dilakukan dan paling efektif untuk mencegah penyakit ini.



Sumber: Suara Pembaruan