6.000 Warga Petobo Diduga Terkubur Likuefaksi

6.000 Warga Petobo Diduga Terkubur Likuefaksi
Presiden Joko Widodo meninjau lokasi gempa dan tsunami di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018. ( Foto: Antara / Puspa Perwitasari )
John Lory / Jeis Montesori / AB Selasa, 9 Oktober 2018 | 15:09 WIB

Palu - Jumlah warga yang terkubur akibat likuefaksi di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, diperkirakan mencapai 6.000 orang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Palu telah meminta agar proses pencarian korban di kawasan Petobo tidak dilanjutkan mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan, dan pemerintah menjadikan Petobo sebagai kuburan massal korban bencana gempa dan tsunami yang mengguncang 28 September lalu.

Perkiraan jumlah korban yang terkubur likuefaksi di Petobo diperoleh dari data jumlah penduduk di kelurahan itu sebanyak 10.410 orang, sesuai data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Palu.

Namun, menurut Camat Palu Selatan, Ashar Yotomaruangi--yang membawahkan Kelurahan Petobo--, data yang ia miliki jumlah penduduk di Kelurahan Petobo mencapai sekitar 13.000 jiwa.

"Data daftar pemilih tetap (DPT) pada saat pilkada saja (pemilihan bupati Sigi tahun 2015) mencapai 9.000 orang, sehingga saya memperkirakan jumlah penduduk di Petobo sekitar 13.000 jiwa," kata Ashar kepada SP, Selasa (9/10).

Dari data itu, katanya, sampai Selasa (9/10), jumlah warga Petobo yang terdata mengungsi di beberapa titik di Kota Palu sekitar 4.900 orang. "Mungkin data pengungsi masih akan bertambah, tapi saya perkirakan tidak terlalu banyak lagi, bisa ratusan orang saja tambahannya, karena warga di Petobo umumnya penduduk asli, sehingga mereka hanya akan mengungsi di wilayah sekitarnya," kata Ashar.

Dengan kondisi itu, maka diperkirakan lebih dari 6.000 warga Petobo yang diduga terkubur bersama harta bendanya saat likuefaksi terjadi, Jumat (28/9) malam.

Namun angka ini, kata Ashar, masih belum bisa dipastikan karena pendataan masih sedang dilakukan. “Kami akan rapat lagi hari Jumat, tanggal 12 Oktober. Mudahan data pasti tentang kerusakan akibat gempa, jumlah pengungsi, dan termasuk jumlah korban sudah bisa ketahui dengan pasti,” kata Ashar.

Terkait kondisi di Petobo, Ashar mengungkapkan, MUI Palu atas saran masyarakat telah meminta agar lokasi yang terkena likuefaksi tidak lagi disentuh dengan alat-alat berat untuk melakukan evakuasi.

“MUI Palu, berdasarkan saran masyarakat, telah meminta agar wilayah yang terdampak likuefaksi di Petobo, dibiarkan menjadi kuburan massal bagi mereka yang telah menjadi korban bencana,” kata Ashar.

Selain di Petobo, di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, juga diperkirakan ada banyak warga yang terkubur akibat likuefaksi.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Pencatatan Sipil, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Palu, Alfrin Magdalena, wilayah Balaroa didiami sekitar 13.400 warga. Sama seperti Petobo, wilayah Balaroa termasuk terparah terkena dampak gempa bumi.

Camat Palu Barat Kapau Bouwo menyampaikan dalam rapat koordinasi terkait penanganan pascabencana yang dipimpin Gubernur Sulteng Longky Djanggola, dihadiri Wali Kota Palu Hidayat, Bupati Sigi Moh Irwan Lapata, para lurah di Palu dan tokoh-tokoh masyarakat, Senin (8/10), bahwa dampak gempa terparah di wilayahnya terjadi di Perumnas Balaroa.

“Sekitar 5.000 jiwa diperkirakan telah menjadi korban dari bencana mengerikan itu. Sebanyak 1.071 rumah warga di dalam kompleks Perumnas Balaroa telah rata dengan tanah akibat gempa,” kata Kapau Bouwo.

Di Perumnas Balaroa, saat gempa terjadi, tanah bergerak dan bergeser sampai ratusan meter serta meruntuhkan seluruh bangunan yang ada. Tanah serta jalanan aspal di sekitarnya juga terbelah-belah, dan sebagian naik ke atas permukaan hingga setinggi 50-75 sentimeter.

Sementara Bupati Sigi Moh Irwan mengatakan kerusakan parah dan banyak penduduk menjadi korban juga terjadi di Desa Jono Oge dan Mpanau, Kecamatan Biromaru. Di kedua desa itu, kata Irwan, terdapat sekitar 13.000 jiwa penduduk, tetapi belum diketahui pasti berapa korban tewas maupun terluka.

"Yang jelas saat terjadi gempa, rumah-rumah penduduk dan fasilitas lainnya di Jono Oge dan Mapanu, hancur rata dengan tanah,” katanya.

Di Jono Oge juga dilaporkan sekitar 200 orang pemuda gereja sedang mengikuti bible camp di sebuah pusat pendidikan dan latihan milik Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) di desa itu. Sebagian besar dari mereka hilang ditelan ke bumi saat gempa terjadi. Menurut saksi mata, bumi terbelah dua dan menelan rumah-rumah penduduk, termasuk lokasi bible camp.

Saksikan videonya di sini:



Sumber: Suara Pembaruan