Ekonom PKS: Genderuwo Adalah Segelintir Orang yang Kuasai Perekonomian Nasional

Ekonom PKS: Genderuwo Adalah Segelintir Orang yang Kuasai Perekonomian Nasional
PKS Perbolehkan Kader Kampanye Negatif ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Yeremia Sukoyo / WM Rabu, 14 November 2018 | 18:55 WIB

 

Jakarta - Sosok genderuwo belakangan menjadi tenar pasca Presiden Joko Widodo (Jokowi) melontarkan kritik terhadap kondisi politik Tanah Air. Setelah sebelumnya menyebut "politik sontoloyo", Jokowi kembali melontarkan kiasan "politik genderuwo" yang mengarah pada politik yang menebar ketakutan.

Menyikapi kondisi ini, pakar ekonomi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Farouk Abdullah Alwyni menilai, genderuwo hanya pantas disematkan kepada segelintir pihak yang menguasai perekonomian nasional.

"1% dari masyarakat kita mengontrol 50% perekonomian masyarakat. Satu persen menguasai 50%, jadi yang 1% ini yang mungkin dimaksud (genderuwo)," kata Farouk, dalam diskusi "Rabu Biru" bertema : Prabowo-Sandi Menumpas Genderuwo Ekonomi, di Prabowo-Sandi Media Center, Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu (14/11).

Ahli ekonomi syariah itu menilai, selama beberapa dekade ini hanya sekitar 20% masyarakat yang merasakan pertumbuhan ekonomi. Sisanya, sekitar 80% tidak mendapat manfaat pertumbuhan ekonomi.

"Padahal, salah satu cara jitu Indonesia untuk keluar dari negara ke-tiga adalah keadilan ekonomi," ungkap mantan direksi Muamalat yang juga caleg PKS dari Dapil DKI 2 itu.

Menurutnya, suka tidak suka tumbuhnya konglomerasi di Indonesia juga sangat dipengaruhi sejak masa Orde Baru (Orba). Konglomerasi di Indonesia juga timbul karena didukung oleh birokrasi yang kurang memperhatikan pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.



Sumber: Suara Pembaruan