Tangkal Serangan Siber, BSSN Gandeng SGU

Tangkal Serangan Siber, BSSN Gandeng SGU
Ilustrasi malware (istimewa)
Yeremia Sukoyo / FER Jumat, 23 November 2018 | 20:58 WIB

Jakarta - Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, ancaman malware (malicious software) menjadi hal yang patut diwaspadai karena berpotensi mengganggu kelancaran pesta demokrasi. Keberadaan malware diyakini bisa menyerang situs penyelenggara pemilu. Terlebih lagi, malware berkontribusi sekitar 40 persen terhadap total gangguan sistem komputer di dunia.

Untuk mendalami ancaman malware di Indonesia, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi menginisiasi kerja sama dengan HoneyNet Project dan Swiss German University (SGU).

BSSN akan menyelenggarakan seminar dan workshop bertema Peningkatan Kemampuan Deteksi dan Koordinasi Insiden Keamanan Siber Secara Nasional hari Sabtu (24/11) di gedung Prominence Tower milik Swiss German University di Alam Sutera, Tangerang.

Acara itu sendiri digelar sebagai inisiasi Kepala BSSN untuk collaborative approach (upaya bersama) dalam membangun pusat riset dan database komprehensif tentang malware (malicious software) bersama para pegiat dan pakar teknologi informasi (TI) yang didukung oleh jejaring di universitas dan perguruan tinggi.

Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo, menjelaskan, badan regulator di dunia siber ini meneruskan proyek HoneyNet Indonesia yang tadinya dinaungi oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika. Semua merupakan suatu proyek kerjasama komunitas pegiat IT dunia dan akademisi untuk meningkatkan kepedulian, menyediakan informasi terkait ancaman siber (cyber threats).

"Kita membangun jejaring di universitas perguruan tinggi untuk project HoneyPot, yaitu membangun pusat riset khusus buat malware. Ini sudah dilakukan sejak lima tahun lalu. Kita berharap ini bisa jadi sebuah proyek nasional," ujar Sulistyo, di Jakarta, Jumat (23/11)

Menurut pejabat di lingkungan BSSN tersebut, proyek ini akan membuat sebuat database yang komprehensif untuk mengidentifikasi malware yang masuk ke Indonesia. Para ahli akan mengenali Indicator of Compromise (IOC), atau gangguan sistem komputer, dan signature (ciri khas) dari malware.

"Malware bisa untuk memata-matai, user, mereka bisa masuk ke sistem, menggangu sistem, masuk ke gadget. Mereka bisa berbentuk virus, trojan, dan lainnya," kata Sulistyo.

"Setelah kita tahu struktur malware seperti apa, apa yang dia serang dan ganggu, kita bisa tahu sistem-sistem apa saja yg rentan terhadap malware tersebut. Lalu kita edukasikan ke publik, kita informasikan misalnya hati-hati ada serangan malware A yang berakibat ini dampaknya ABCD dan cara penanganannya," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE