Terdakwa Penipuan Rp 10 Miliar Dimas Kanjeng Divonis Nihil

Terdakwa Penipuan Rp 10 Miliar Dimas Kanjeng Divonis Nihil
Dimas Kanjeng Taat Pribadi ( Foto: Antara/Umarul Faruq )
Aries Sudiono / FMB Kamis, 6 Desember 2018 | 13:12 WIB

Surabaya - Terdakwa penipuan Dimas Kanjeng Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng (51), divonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dengan hukuman nihil. Vonis yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana tersebut langsung diterima terpidana Dimas Kanjeng dalam sidang lanjutan, Rabu (5/12).

Pembina Yayasan Padepokan ‘Bank Gaib’ Dimas Kanjeng di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jatim, itu terlibat kasus penipuan berkedok penggandaan uang secara gaib atas saksi korban M Ali sebesar Rp 10 miliar. 

Dalam amar putusan itu terdakwa Dimas Kanjeng dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) melanggar Pasal 378 KUHP tentang penipuan sebesar Rp 10 miliar. 

Hukuman nihil diberikan karena yang bersangkutan sudah divonis 21 tahun dalam perkara lain, sedangkan hukum di Indonesia mengatakan hukuman kumulatif maksimal adalah 20 tahun. Dimas Kanjeng sebelumnya divonis 18 tahun atas kasus pembunuhannn ditambah tiga tahun atas kasus penipuan.

“Sesuai peraturan undang-undang, kumulatif tidak memperbolehkan hukuman melebihi dari 20 tahun. Sehingga menjatuhkan pidana dengan hukuman nihil,” ujar Anne Rusiana yang langsung disambut Dimas Kanjeng dengan tersenyum. “Kita hormati putusan majelis hakim,” ujar Dimas Kanjeng kalem saat berlalu keluar ruang sidang menuju mobil tahanan kejaksaan. Sementara JPU Rachmat Hari Basuki hanya terdiam seolah tidak bisa berbuat lain kecuali menyatakan pikir-pikir guna menyampaikan vonis tersebut kepada atasan.

“Kita laporkan dulu vonis majelis hakim itu ke atasan yah,” ujarnya sambil cepat berlalu. JPU Rachmat pada sidang sebelumnya menuntut Dimas Kanjeng Taat Pribadi dengan hukuman empat tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap saksi korban M Ali sebesar Rp 10 miliar melanggar Pasal 378 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dimas Kanjeng yang berhasil memperdaya puluhan ribu ‘murid’ padepokan yang menyerahkan uangnya dengan janji akan dilipatgandakan secara gaib hingga 1.000 kali itu dalam kurun waktu tertentu itu mampu mendulang kekayaan sekitar Rp 2,5 triliun. Ia sempat dinobatkan oleh Koordinator Raja-raja se-Nusantara dalam prosesi Jumenengan yang fantastis sebagai Raja Probolinggo bergelar Sri Raja Prabu Rajasa Nagara, pada 11 Januari 2016. Karenanya, banyak kaki tangannya yang bertindak sebagai koordinator pengepul pencari ‘nasabah’ (korban penyetor uang untuk digandakan) diangkat sebagai Sultan.

Dalam persidangan sebelumnya, Dimas Kanjeng terbukti terlibat dalam pembunuhan terhadap dua orang ‘Sultan’-nya bernama Hidayah Ismail (2 Februari 2015) dan Abdul Gani (13 April 2016). Motif dari pembunuhan itu sendiri dilatarbelakangi ketakutan Dimas Kanjeng terhadap kedua korban selaku koordinator pengepul uang mahar yang akan digandakan, mengancam akan membongkar ke polisi. Hidayah Ismail asal Situbondo dan Abdul Gani asal Probolinggo, kemudian dihabisi melalui sembilan orang centengnya, beberapa di antaranya pecatan militer. Jasad korban dibuang di tepi Hutan Tegalsiwalan, Situbondo dan di tepian Waduk Gajahmungkur di Wonogiri.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE