PPAD: Kekerasan Papua Dilakukan Kelompok Separatis Bersenjata

PPAD: Kekerasan Papua Dilakukan Kelompok Separatis Bersenjata
Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua, 5 Desember 2018. Aparat gabungan terus berusaha mengatasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga telah menewaskan 31 karyawan PT Istika Karya saat melakukan pengerjaan jalur Trans Papua di Kali Yigi dan Kali Aurak Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. ( Foto: Antara / Iwan Adisaputra )
Yeremia Sukoyo / AO Jumat, 7 Desember 2018 | 11:51 WIB

Jakarta - Sejumlah pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, diserang Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). Akibat kejadian tersebut, beberapa pekerja tewas terbunuh.

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), Letjen Purn Kiki Syahnakri mengatakan, melihat pembantaian yang terjadi di Papua, para pelaku sepatutnya tidak lagi disebut sebagai Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB) sebagaimana penyebutannya selama ini.

"Mereka ini kelompok pemberontak bersenjata. Mereka adalah Gerombolan Separatis Bersenjata Organisasi Papua Merdeka (GSB-OPM)," kata Kiki di Jakarta, Jumat (7/12).

Alasan penyebutan GSB OPM, karena tujuan mereka jelas untuk memisahkan diri dari NKRI dan sudah terorganisasi sebagai organisasi militer. Mereka juga kerap melakukan aksi-aksi kekerasan bersenjata. "Kehadiran mereka sudah dapat dikategorikan sebagai pemberontakan bersenjata terhadap NKRI dan memenuhi syarat disebut sebagai kelompok kombatan yang patut ditumpas secara militer," ujar Kiki.

GSB OPM, ujar Kiki, secara pendekatan militer sesunguhnya sudah lebih tinggi dari gerakan terorisme. Sebab, aksi-aksi gerombolan tersebut sudah menyangkut persoalan kedaulatan suatu bangsa dan menjadi sasaran keamanan negara.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE