Suaka Ditolak, 13 Pengungsi di Riau Layak Dideportasi

Suaka Ditolak, 13 Pengungsi di Riau Layak Dideportasi
ilustrasi Deportasi ( Foto: Antara )
/ YS Jumat, 7 Desember 2018 | 17:10 WIB

Pekanbaru - Sebanyak 13 pengungsi yang kini dalam pengawasan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru sudah saatnya dideportasi dari Indonesia karena sudah dinyatakan tidak akan mendapat suaka di negara tujuan mereka.

"Dari 1.158 pengungsi di Pekanbaru, ada 13 pengungsi yang sudah final rejected atau tidak akan mendapatkan suaka. Mereka sudah seharusnya dideportasi," kata Kepala Rudenim Pekanbaru, Junior Sigalingging di Pekanbaru, Riau, Jumat (7/12).

Ia mengatakan, imigran berstatus "final rejected" itu mayoritas berasal dari Iran dan Srilanka. Namun, dalam proses pembiayaan deportasi atau pemulangan ke negara asal, Junior mengatakan itu adalah urusan dari lembaga PBB yang menangani pengungsi atau UNHCR, yang di Indonesia melalui lembaga yang ditunjuk yakni International Organization for Migration (IOM).

"Jangan sampai proses deportasi mereka dibebankan ke pemerintah Indonesia," katanya.

Menurut dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Iran di Indonesia terkait proses deportasi. Pihak pemerintah Iran menyatakan, kondisi negara tersebut secara politik sudah aman dan ekonomi mereka juga relatif stabil, sehingga alasan warganya bersikeras mengungsi patut dipertanyakan.

Ia menjelaskan kini ada 1.158 pengungsi yang ada di Riau, dan lima di antaranya adalah pengungsi mandiri yang datang ke Indonesia sebagai turis dan mendaftar ke UNHCR sebagai pencari suaka. Indonesia selama ini hanya menjadi negara transit untuk mereka yang mencari suaka.

Pengungsi paling banyak berasal dari Afghanistan yakni mencapai 918 orang. Kemudian ada dari Palestina sebanyak 59 orang, Sudan 38 orang, Myanmar 43 orang, Irak 29 orang, Pakistan 25 orang, Iran 20 orang, Somalia 19 orang, Srilanka tiga orang, serta Yordania, Syiria, Singapura dan Malaysia masing-masing satu orang.

Selain 13 orang tersebut, lanjutnya, pengungsi lainnya masih berstatus dalam proses mencari suaka. Biaya hidup mereka ditanggung oleh IOM, namun pengawasan menjadi tanggung jawab Rudenim Pekanbaru. Namun, ada lima pengungsi mandiri yang kini dirawat oleh komunitas Kristen karena IOM mulai tahun ini tidak menanggung biaya hidup pengungsi mandiri.



Sumber: ANTARA
CLOSE