Polisi Tangkap Guru Penyebar Hoax Surat Suara

Polisi Tangkap Guru Penyebar Hoax Surat Suara
MIK (38) ditangkap lantaran diduga menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait tujuh kontainer berisi 80 juta surat suara yang sudah dicoblos. ( Foto: Beritasatu.com / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / FMB Jumat, 11 Januari 2019 | 18:25 WIB

Jakarta - Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, menangkap seorang guru berinisial MIK (38) lantaran diduga menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait tujuh kontainer berisi 80 juta surat suara yang sudah dicoblos.

"Penangkapan seseorang yang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan atau menyebarkan berita bohong," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono, Jumat (11/1).

Dikatakan, pengungkapan kasus ini bermula ketika viralnya berita bohong terkait adanya tujuh kontainer di Tanjung Priok, berisi 80 juta surat suara telah dicoblos, di media sosial. Tim Cyber Crime kemudian melakukan patroli dunia maya.

"Dari kegiatan itu, akhirnya menemukan akun Twitter @chiecilihie80, yang berisikan tulisan di Tanjung Priok ada tujuh kontainer tadi," ungkapnya.

Sejurus kemudian, penyidik membuat laporan model A, pada tanggal 4 Januari 2019. "Kami melakukan penyelidikan, memeriksa saksi-saksi, akhirnya kami menaikkan status ke penyidikan," katanya.

Ia menyampaikan, penyidik kemudian mengejar penulis dan pemilik akun Twitter itu, di Majalengka. Namun, ternyata yang bersangkutan sudah pindah ke Cilegon.

"Tanggal 6 Januari, sekitar pukul 22.30 WIB, akhirnya kami menangkap pelaku dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Tersangka berinisial MIK, usia 38 tahun," jelasnya.

Argo mengungkapkan, tersangka MIK berperan memposting kalimat yang dibuatnya sendiri di akun twitter itu. Kemudian, mention ke akun Twitter @dahnilanzar. Cuitannya berbunyi: "@dahnilanzar Harap ditindaklanjuti informasi berikut: DI TANJUNG PRIOK ADA 7 KONTAINER BERISI 80JT SURAT SUARA YANG SUDAH DICOBLOS. HAYO PADA MERAPAT PASTI DARI TIONGKOK TUH."

"Di bawahnya ada juga yang isinya 'viralkan info dari sumber yang layak dipercaya' dan seterusnya," ucapnya.

Menurutnya, penyidik sudah melakukan pemeriksaan kepada tersangka. Berdasarkan keterangannya, dia memposting tulisan itu untuk memberitahukan kepada tim pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02.

"Bahwa dari hasil pemeriksan tersangka, yang bersangkutan adalah seorang guru di daerah Cilegon. Yang bersangkutan membuat narasi kalimat postingan di akun itu dibuat sendiri, dengan maksud memberitahukan kepada tim pendukung paslon 02 tentang informasi tersebut. Ini menurut keterangan tersangka seperti itu. Tersangka juga tak bisa membuktikan ini capturenya dari mana. Kami tanya dari mana, dia tidak bisa membuktikan. Kata dia dari Facebook, tapi dia nggak tahu Facebook siapa," tandasnya.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) Undang-undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Elektronik, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 1.000.O00.000, dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-undang RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana, dengan pidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 10 tahun.



Sumber: BeritaSatu.com