Yusril Pertanyakan Sistem Pengelolaan Lapas di Indonesia

Yusril Pertanyakan Sistem Pengelolaan Lapas di Indonesia
Yusril Ihza Mahendra saat tiba di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis, 29 November 2018. ( Foto: Istimewa )
Yeremia Sukoyo / AMA Jumat, 11 Januari 2019 | 22:47 WIB

Jakarta - Pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Mulai dari kelebihan kapasitas, peredaran narkoba, hingga masalah-masalah lain yang cukup mencoreng upaya penegakan hukum di Indonesia.

Mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra di Jakarta, Jumat (11/1) menilai, untuk menuntaskan permasalahan pengelolaan Lapas, harus dilakukan oleh orang-orang yang paham betul kondisi Lapas dan segala persoalannya.

“Sejak saya menjabat menteri Hukum dan HAM 15 tahun lalu, jumlah lapas dan rutan tak bertambah. Itu-itu saja. Padahal setiap harinya banyak yang masuk. Karena itu, lapas yang sudah melebihi kapasitas akan selalu menimbulkan masalah,” katanya.

Dibandingkan dengan periode kepemimpinannya di Kementerian Hukum dan HAM, saat ini anggaran di Kementerian Hukum dan HAM sudah jauh lebih besar. Dahulu, ketika dirinya menjabat, dengan anggaran Rp 500 miliar, bisa membangun Cipinang dan Salemba.

Pakar hukum tata negara itu menilai, seharusnya saat ini disiapkan seseorang yang paham betul dengan masalah lapas dan rutan. Orang tersebut harus sosok yang paham betul seluk beluk pengelolaan Lapas dan merupakan sosok tamatan aktif dari pengelolaan penjara.

“Kalau tidak bisa diubah pemimpinnya, ya akan seperti ini terus. Nanti akan muncul jual beli kamar, kericuhan dan sebagainya," katanya.

Sebelumnya, sejumlah pihak juga mempertanyakan kinerja Dirjen Pas. Yang paling menonjol yakni mencuatnya kasus suap fasilitas sel mewah. Kemudian disusul kasus pelarian narapidana, peredaran narkoba, dan kerusuhan Lapas.

Bahkan desakan mundur Dirjen Pas Sri Puguh Budi Utami juga datang dari Komisi III DPR RI dan Indonesia Corruption Watch (ICW). Desakan tersebut datang, usai KPK menangkap Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein, dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Lapas Sukamiskin beberapa waktu lalu.



Sumber: Suara Pembaruan