22 Provinsi Laporkan Kasus Meningkat, Waspadai KLB DBD

22 Provinsi Laporkan Kasus Meningkat, Waspadai KLB DBD
Waspada demam berdarah dengue (DBD). ( Foto: Antara )
Dina Manafe / JAS Sabtu, 12 Januari 2019 | 21:57 WIB

Jakarta - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kini mulai marak di sejumlah wilayah. Intensitas hujan yang lebih sering terjadi menimbulkan banyak genangan air di lingkungan tempat tinggal, dan menjadi sarang nyamuk aedes aegypti pembawa virus dengue, penyebab penyakit DBD.

Kementerian Kesehatan (Kemkes) meminta pemerintah daerah dan juga masyarakat untuk mewaspadai penularan penyakit DBD yang berpotensi terjadi kejadian luar biasa (KLB).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, MEpid, mengatakan, di beberapa daerah terjadi peningkatan kasus. Sebanyak 22 provinsi melaporkan peningkatan kasus sepanjang 2018 sampai awal 2019.

Hingga akhir Desember 2018 dilaporkan KLB terjadi di Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah), dan Kabupaten Manggarai Barat (NTT). Sedangkan Kota Manado dan Kabupaten Bitung (Sulawesi Utara) melaporkan KLB per Kamis 10 Januari 2019. Sementara beberapa provinsi melaporkan kasusnya meningkat tetapi belum masuk KLB, seperti Aceh, Jambi, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan lain-lain.

“Dikatakan KLB apabila kasusnya meningkat minimal dua kali lipat. Di Sulawesi Utara, kasusnya setiap minggu hanya 42 kasus, namun dua minggu berikutnya meningkat menjadi 92 kasus, sehingga mereka menyatakan terjadi KLB,” kata Nadia kepada Suara Pembaruan via telepon, Sabtu (12/1).

Menurut Nadia, kasus DBD ini terus bergerak. Bisa lebih tinggi atau malah turun tergantung dari pengendalian yang dilakukan di wilayah tersebut. Biasanya peningkatan kasus terjadi di musim hujan. Karenanya setiap awal November, Menteri Kesehatan selalu mengirimkan surat kepada semua gubernur untuk mewaspadai DBD.

Secara nasional, kasus DBD mengalami penurunan. Di 2017 dilaporkan 22.000 kasus DBD, sedangkan di 2018 sebanyak 11.000 kasus. Beberapa provinsi di Pulau Jawa cenderung tingginya kasusnya, bahkan bisa mencapai 300 kasus per minggu, dikarenakan penduduknya banyak dan padat. Kasus tertinggi pernah terjadi di Jawa Timur pada 2017 lalu sebanyak 8000 kasus.

Menurut Nadia, beberapa daerah yang melaporkan DBD sudah ditanggulangi oleh tim gerak cepat Kemkes bersama dinas kesehatan provinsi setempat. Kemkes juga sudah menyelidiki sumber penularan DBD, dan melakukan langkah stop penularan DBD agar KLB tidak meluas.

Masyarakat dan pemerintah daerah diminta untuk lakukan pencegahan dengan 3M Plus. Pertama, menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum dan air lemari es.

Kedua, menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain-lain. Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Kemudian, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau antinyamuk, kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa jadi tempat istirahat nyamuk.

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) juga perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Mudah Menular

Nadia menambahkan, penyakit DBD sangat mudah menular. Virus dengue biasanya menginfeksi nyamuk aedes betina saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia), yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari (periode inkubasi ekstrinsik) sesudah menghisap darah penderita yang sedang viremia dan tetap infektif selama hidupnya.

Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 34 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit.

Gejala awal DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata dan nyeri punggung kadang disertai tanda-tanda perdarahan. Pada kasus yang lebih berat akan menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, syok, hingga kematian. Masa inkubasi penyakit ini 3-14 hari, tetapi pada umumnya 4-7 hari.

DBD menyerang pembuluh darah yang menyebabkan indikator trombosit turun drastis. Kasus meninggalnya seseorang karena mengalami shock pembuluh darah.

“Penting kita memutuskan rantai penularan mulai nyamuk pradewasa sampai nyamuk dewasa. Langkahnya dengan 3M Plus tadi dan jangan sampai ada genangan air di lingkungan tempat tinggal kita,” kata Nadia.

Keluarga pun harus ambil bagian dalam pencegahan, misalnya memastikan 3M Plus dilaksanakan. Apabila terasa demam harus segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE