KNKT: Penemuan CVR Agar Kecelakaan Serupa Tidak Terulang

KNKT: Penemuan CVR Agar Kecelakaan Serupa Tidak Terulang
Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono (tengah) menunjukkan kondisi bagian kotak hitam (black box) berisi Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang telah ditemukan oleh Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada I di KRI Spica-934 , perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (14/1/2019). Bagian dari kotak hitam tersebut diserahkan ke pihak KNKT untuk dilakukan investigasi lebih lanjut. ( Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar )
Carlos Roy Fajarta / JAS Senin, 14 Januari 2019 | 18:15 WIB

Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengenaskan penemuan Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air Boeing 737 Max 8 PK-LQP JT-610 tidak terkait gugatan keluarga korban terhadap pihak produsen Boeing.

"Tujuan utama analisis KNKT terhadap CVR yang ditemukan agar tidak terjadi kecelakaan pesawat kembali pada masa mendatang. Jadi tidak ada hubungannya dengan proses hukum yang digugat oleh keluarga korban penumpang," ujar Ketua KNKT Suryanto Cahyono, Senin (14/1) sore di dermaga JICT II Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

Ia menyebutkan CVR yang ditemukan akan langsung dibawa ke markas KNKT untuk proses analisis di fasilitas black box untuk melaksanakan proses pengunduhan dan mengetahui data apa yang tersimpan dalam alat tersebut.

"Membutuhkan waktu 3-5 hari untuk bisa mengetahui data dalam CVR ini. Proses pengunduhan akan dilanjutkan analisis lama tidaknya tergantung kompleksitas, human factor, suasana kokpit, human training tetapi tidak terlalu lama," tambahnya.

Setelah mendapatkan laporan akhir hasil analisis CVR & FDR (flight data recorder) yang diharapkan bisa diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, kemudian pihak KNKT baru bisa menyampaikan penyebab jatuhnya pesawat nahas Lion Air Boeing 737 Max 8 PK-LQP JT-610 kepada awak media.

Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro menyebutkan pihaknya mengalami kendala teknis, ketebalan lumpur 30 cm, cuaca hujan, dan visibilitas yang sangat rendah sehingga baru bisa menemukan CVR.

"Ping-nya hampir sangat lemah karena terhalang puing-puing di kedalaman 33 meter. Setelah kembali kita turun di pagi hari, karena laut tenang, pada pukul 08.40 WIB kita temukan CVR tidak terlalu jauh dari lokasi akselerator sebelumnya," kata Harjo.

Dikatakannya secara fisik kondisi CVR hanya lecet karena memang di desain sedemikian rupa bisa menahan entakan hingga 200 G.

"Serpihan puing yang lain tidak akan dilanjutkan karena tidak terlalu bermanfaat signifikan. Human remain sisa tulang akan diserahkan dari Koarmada I ke Lion. Mengenai itu tulang siapa, akan diserahkan kepada pihak yang mampu," tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan