Publik Diminta Tak Percaya Hasil Survei

Publik Diminta Tak Percaya Hasil Survei
Rizal Ramli. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Carlos KY Paath / WM Selasa, 15 Januari 2019 | 20:41 WIB

 

Jakarta - Mantan Menteri Koordinator Perekonomian, Rizal Ramli menyoroti hasil survei Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Secara khusus, ia mengungkap keunggulan sementara calon presiden (capres) nomor 01 Joko Widodo (Jokowi) atas capres 02 Prabowo Subianto.

Jarak elektabilitas Jokowi dan Prabowo berdasarkan sejumlah survei mencapai sekitar 20%. Namun, ia kemudian mengungkapkan hasil jajak pendapat menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pilpres 2014. Ketika itu, lanjut Rizal, perusahaan polling dibayar enam orang yang punya kuasa.

Menyimpulkan jika Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri diusung sebagai capres, maka PDIP anjlok dari 16% ke 12%. “Tapi kalau PDIP ajukan Jokowi, PDIP naik dari 16% ke 33-35%,” ungkap Rizal.

Hal itu dikemukakan mantan tokoh mahasiswa, Rizal Ramli dalam Diskusi Publik Topic of the Week bertajuk “Refleksi Malari: Ganti Nakhoda Negeri?” di Posko Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi), Jakarta, Selasa (15/1).

“Saya enggak punya perusahaan polling. Tapi Rizal Ramli ketemu rakyat di jalan. Kami simpulkan waktu itu Jokowi effect (efek) hanya 2%. Apa yang terjadi? Jokowi terpilih jadi presiden, PDIP hanya naik dari 16% ke 18%,” ujar Rizal.

Oleh karena itu, Rizal meminta agar lembaga survei tak usah lagi dipercaya. Sebab, lembaga polling hanya alat propaganda. Kalau di luar negeri, lanjutnya, pembiayaan survei diumumkan. Rakyat akhirnya menjadi tahu.

Sedangkan di Indonesia, disebut tak ada penjelasan sumber pembiayaan survei. “Hari ini lembaga polling bilang gap Jokowi dan Prabowo 20% lebih. Pada saat jaya-jayanya Mas Jokowi, dia cuma dapat 52-53%. Kok hari ini ada yang klaim lembaga survei, Jokowi dapat 56%. Yang benar saja,” ucapnya.

Menurutnya, lembaga survei sudah kompak mengelola perbedaan Jokowi dan Prabowo sebesar 20%. Nantinya, jika Pilpres berbanding terbalik hasilnya, maka bisa menjustifikasi adanya kecurangan. Rizal memiliki data sendiri mengenai jarak tersebut.

“Gapnya itu sekarang sebenarnya sudah kurang 10%. Jokowi stagnan (tidak naik), Prabowo naik. Gapnya itu kurang dari 10%, dan belum menentukan sikap sekitar 20%. Oleh karena itu, kalau mau menang Prabowo-Sandi harus menang double digit (dua angka lebih),” ungkapnya.

Ia menekankan, kunci kemenangan Prabowo-Sandi berada pada militansi. Dari sisi anggaran, ia menerima informasi bahwa Prabowo-Sandi tak memiliki uang berlebih. “Prabowo bilang sama saya, “Mas Rizal ada kemajuan tidak?”. Saya bilang ada. Prabowo lalu bilang “Syukur alhamdulilah. Wong kita selama ini ‘pahe’”. Maksudnya Prabowo itu paket hemat,” imbuhnya.

Terkait kecurangan, ia berharap hal itu tak terjadi. “Saya ingin ingatkan. Kita setuju dengan proses demorkasi. Ketidakpuasan, keinginan buat perubahan harus disalurkan lewat cara-cara demokratis yaitu pilpres. Tetapi, kalau ada yang coba-coba untuk super curang bulan April nanti, itu akhirnya akan menantang people power (kekuatan rakyat),” pungkasnya.

Turut hadir sebagai panelis dalam diskusi yaitu Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan Ketua MPR Amien Rais, dan mantan Mendagri Letjen (Purn) Syarwan Hamid.



Sumber: Suara Pembaruan