PDIP Dukung Penuh Upaya UGM Perjuangkan NU dan Muhammadiyah Terima Nobel Perdamaian

PDIP Dukung Penuh Upaya UGM Perjuangkan NU dan Muhammadiyah Terima Nobel Perdamaian
Peserta memanjatkan doa ketika mengikuti Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), doa bersama untuk keselamatan bangsa dan maulidrrasul di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 27 Januari 2019. (Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao)
Markus Junianto Sihaloho / WM Rabu, 30 Januari 2019 | 17:43 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - PDI Perjuangan memberikan dukungan sepenuhnya terhadap upaya yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) di dalam memperjuangkan NU dan Muhammadiyah untuk menerima Nobel Perdamaian.

Hal itu diungkapkan oleh Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, saat dijumpai Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (30/1).

"PDI Perjuangan percaya, dengan tradisi keIslaman yang membangun watak dan jati diri bangsa gotong royong, maka pemberian Nobel Perdamaian tersebut sangat relevan mengingat peran Muhammadiyah dan NU dalam mewujudkan Islam yang toleran atau tasamuh, damai dan menjadi inspirasi bagi dunia," ujar Hasto Kristiyanto.

Dikatakan Hasto Kristiyanto, ketika Bung Karno merancang naskah awal pembukaan UUD 1945, maka disitulah semangat ikut melaksanakan ketertiban dunia diperjuangkan. Ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial adalah implementasi Pancasila. Inilah semangat membangun persaudaraan dunia dimana Pancasila hadir sebagai solusi atas jalan tatanan dunia baru tersebut.

Nah, dasar seluruh filsafat menjadikan kemerdekaan Indonesia untuk mewujudkan persaudaraan dunia, tidak terlepas dari keteledanan dan kepeloporan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Yakni Muhammadiyah dan NU.

"Kedua organisasi ini menjadi pelopor dalam membangun sintesa yang sempurna antara Islam dan Pancasila; Pancasila dan Islam," ujar pria asal Yogyakarta itu.

Muhammadiyah, dengan semangat Islam berkemajuan untuk kemaslahatan umat, berdakwah melalui bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan gerak ekonomi kerakyatan. Dia menjadi contoh kemajuan peradaban Indonesia.

Demikian halnya NU, dengan semangat hubbul wathan minal iman dan tradisi Islam yang menyatu dengan tradisi kebudayaan masyarakat Indonesia. Dibalut dengan pendidikan pesantren yang unik dan khas nusantara, serta mekanisme untuk melakukan musyawarah terhadap berbagai persoalan mendasar bangsa.

"Hal-hal itu yang kemudian menjadikan Pancasila sebagai dasar, jiwa dan kepribadian bangsa sangat diakui,"kata Hasto Kristiyanto

Untuk diketahui, Universitas Gadjah Mada (UGM) akan mengusulkan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai kandidat penerima penghargaan Nobel Perdamaian. Hal tersebut mengemuka saat seminar internasional “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara untuk Dunia” yang berlangsung Jumat (25/1) di Balai Senat UGM.

Rektor UGM Panut Mulyono mengatakan, NU dan Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam proses transisi dan konsolidasi demokrasi di Indonesia. Peran positif konsolidasi terlihat dalam upaya membangun perdamaian melalui kiprahnya dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, filantropi, kebencanaan, sosial kemasyarakatan, serta demokrasi.

“NU dan Muhammadiyah turut berkiprah dalam perdamaian di Indonesia dan di kancah internasional. Kiprah tersebut telah dirasakan masyarakat dunia,” kata Panut seperti dikutip dari laman ugm.ac.id.



Sumber: BeritaSatu.com