Penderita DBD di Bojonegoro Meningkat Jadi 211 Orang, 4 Orang Meninggal

Penderita DBD di Bojonegoro Meningkat Jadi 211 Orang, 4 Orang Meninggal
Petugas kesehatan memberikan penanganan medis kepada pasien penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum Daerah Simpang Lima Gumul, Kediri, Jawa Timur, Kamis (17/1/2019). Data dari Dinas Kesehatan setempat menyebutkan sedikitnya 486 warga terserang DBD dengan sembilan orang di antaranya meninggal dunia dalam kurun waktu dua pekan terakhir. ( Foto: ANTARA FOTO / Prasetia Fauzani )
Aries Sudiono / CAH Senin, 4 Februari 2019 | 10:34 WIB

Bojonegoro - Jumlah penderita penyakit demam berdarah di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur (Jatim) selama Januari lalu terdapat 177 orang pasien. Terjadi peningkatan memasuki minggu pertama Februari menjadi 211 orang yang mayoritas adalah anak-anak. Dari jumlah itu, empat orang di antaranya meninggal dunia karena kondisinya akut akibat terlambat dibawa ke dokter.

Banyaknya penderita penyakit tersebut membuat sejumlah ruang perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Jatikusumo di Bojonegoro tak mampu lagi menampung jumlah pasien. Merekapun terpaksa dirawat di lorong-lorong rumah sakit dengan tempat tidur ekstra (tambahan). Upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Bojonegoro untuk menggelorakan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan 3M plus (menguras, mengubur, menutup dan mendaur ulang) dinilai banyak pihak sebagai tertatih-tatih, termasuk di antaranya sosialisasi kebersihan lingkungan yang belum maksimal.

“Berkembang biaknya jentik nyamuk aedes aegypti terjadi karena daerah Bojonegoro selama musim penghujan sering dilanda banjir. Genangan air dan kubangan dadakan menjadi penyebab epidemi tiga tahunan,” ujar Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah didampingi Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Kasie P3M Dinkes) Pemkab Bojonegoro Whenny Dyah, yang dikonfirmasi Beritasatu.com, Senin (4/2) pagi.

Diakui, hingga hari ini, pasien DBD yang didominasi anak-anak masih memenuhi sejumlah ruang perawatan anak dan lorong-lorong RSUD.

Imbauan juga disampaikan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dan menghindari gigitan nyamuk di pagi hari berkisar pukul 07.00 hingga 10.00 WIB dan sore pukul 15.00 sampai 17.00 WIB. Selain itu kepada rumah sakit (RS) maupun tenaga kesehatan agar lebih waspada DBD dan mengaktifkan koordinasi SKDR atau sistem kewaspadaan dini rumah sakit.

Humas RSUD Sosodoro Jatikusumo, Thomas Djaja, yang dikonfirmasi terpisah mengungkapkan, bahwa data di RSUD Sosodoro Jatikusumo Bojonegoro, selama Desember 2018 terdapat 62 pasien, satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan Januari 2019 ada 86 pasien dan satu di antaranya meninggal dunia.

“Mayoritas pasiennya anak-anak dan balita,” tandas Thomas Djaja.

Sementara itu, Kasi P3M Dinkes Pemkab Bojonegoro, Whenny Dyah menyebutkan, selama Januari-Desember 2018 tercatat ada 595 kasus demam berdarah terjadi di Bojonegoro, di mana 12 di antaranya meninggal dunia.

“Selama Januari hingga minggu pertama Februari 2019 ada 211 jiwa warga penderita DBD, empat di antaranya meninggal dunia. Kasus demam berdarah merata di semua kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, namun yang tertinggi di Kecamatan Tambakrejo,” ujarnya.

Menurut Whenny, dalam upaya menanggulangi wabah tersebut, pihak dinas kesehatan gencar melakukan fogging dan pembagian abate obat pembunuh jentik nyamuk di daerag epidemi yang tedapat genangan banjir. Pihaknya juga menerjunkan kader jumantik atau juru pemantau jentik nyamuk di setiap desa, untuk memberantas sarang jentik nyamuk.

“Kader jumantik kita harapkan memasyarakat di setiap keluarga, karena nyamuk DBD sangat membahayakan keselamatan jiwa, terutama anak-anak,” harapnya.



Sumber: Suara Pembaruan