Umat Kong Hu Cu di Depok Berharap Tak Ada Lagi Sebutan Minoritas

Umat Kong Hu Cu di Depok Berharap Tak Ada Lagi Sebutan Minoritas
Ketua Majelis Agama Kong Hu Cu Kota Depok Suwito di depan altar persembahan untuk perayaan Imlek di kediamannya di Depok, Jawa Barat, Senin 4 Februari 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / FMB Senin, 4 Februari 2019 | 18:06 WIB

Depok, Beritasatu.com - Umat Kong Hu Cu di Kota Depok, Jawa Barat berharap pada Tahun Baru Imlek 2570 tidak ada lagi penyebutan minoritas. Etnis Tionghoa merupakan bagian dari Indonesia karena nenek moyang sudah lahir dan juga berjuang bersama untuk kemerdekaan Indonesia serta melawan penjajah Belanda dan Jepang.

Ketua Majelis Agama Kong Hu Cu Kota Depok Suwito menuturkan masih terdapat diskriminasi di antaranya adalah tentang pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) di mana tidak ada kolom agama Kong Hu Cu.

"Saya akhirnya mengisi kolom dengan agama Islam karena kebetulan memang nenek saya Muslim dan keluarga besar saya juga berasal dari beragam agama. Ada yang Islam, Kristen, Katolik," ujar Suwito kepada SP di kediamannya di wilayah Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (4/2).

Namun demikian, Suwito tetap berbesar hati karena pada kehidupan keseharian bersama masyarakat luas tetap harmonis dan tidak terdapat sekat-sekat.

"Kami selalu harmonis dengan masyarakat sekitar. Bahkan besok pasti banyak yang silaturahmi. Hingga tengah malam dan yang datang dari berbagai agama," tutur Suwito.

Perayaan Imlek di Depok sendiri tidak dilaksanakan secara spesial, di mana hanya dilakukan sembayang atau kebaktian di Li Tang atau Kong Miau masing-masing.

Tercatat terdapat tiga Li Tang umat Kong Hu Cu di Depok yakni Li Tang Genta Kebajikan di Kecamatan Pancoran Mas, Li Tang Semangat Genta Rohani di Kecamatan Tapos, dan Li Tang Harmoni di Kecamatan Cimanggis.

Upacara peribadatan dimulai pada hari ini, Senin (4/2) pukul 23:00 hingga 01:00. Namun sebelumnya, yakni pada pukul 19:00 dilaksanakan berbagai persembahan kreativitas dari anak-anak yang biasanya berisikan tari-tarian, nyanyian dan sebagainya.

"Perayaan kami sederhana saja karena intinya berdoa dan sembahyang di pergantian hari menuju Tahun Baru Imlek ini. Kami berdoa agar segalanya terlindungi dan menjadi sejahtera," ujar Suwito.

Imlek juga identik dengan berbagai hidangan di antaranya adalah jeruk dan pisang, serta kue keranjang atau Nien Kao. Tiga hidangan ini tidak boleh terlupakan dan disajikan di meja persembahan.

"Jeruk ini maknanya adalah keberkahan. Kalau pisang berarti pengharapan karena bentuk setandan pisang seperti tangan yang sedang berdoa. Sedangkan kue keranjang hidangan utama yang harus ada sejak dulu. Kue keranjang ini kami sajikan di hadapan altar persembahan di rumah masing-masing," papar ayah dari tiga orang anak ini.

Sedangkan hidangan lain yang disajikan di antaranya masakan dari olahan ikan, olahan daging babi, olahan daging ayam, olahan sayur dan juga ada sajian teh, kopi, arak.

"Kami sajikan hidangan yang disukai oleh para leluhur kami. Seperti ini biasanya ikan bandeng tetapi karena leluhur kami sejak dulu menggunakan ikan mujair maka kami menggunakan ikan mujair. Disesuaikan saja," ujar Suwito yang berprofesi sebagai pemilik bengkel mobil ini.

Pada tahun 2019 atau 2570 Kongzili, yang juga bertepatan dengan tahun politik, umat Kong Hu Cu berharap akan terpilih pemimpin yang adil dan mampu menyejahterakan rakyat serta tidak menumpuk harta secara pribadi untuk kepentingannya.

Pada tahun ini juga tema Imlek Nasional adalah "Penimbunan kekayaan akan menimbulkan perpecahan di antara rakyat. Penyebaran kekayaan akan menyejahterakan rakyat".

"Hal penting adalah jangan sampai pemimpin hanya mengutamakan kepentingannya sendiri apalagi sampai korupsi," kata Suwito.

Dirinya berharap, pada perayaan Imlek Nasional ini Presiden Joko Widodo bersedia hadir dalam perayaan yang akan dilakukan di daerah sekitar Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, pada tanggal 10 Februari mendatang.

"Sejak menjabat presiden, beliau belum pernah datang. Saya paham mungkin beliau sibuk. Tetapi saya berharap beliau bisa datang dan bertemu kami umat Kong Hu Cu. Karena kami juga bagian dari Indonesia tanpa sekat apapun," pungkas Suwito.



Sumber: BeritaSatu.com