Galang Dukungan dari Alumni Harus Diikuti Program Konkret

Galang Dukungan dari Alumni Harus Diikuti Program Konkret
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo, menyampaikan pidato saat menghadiri deklarasi dukungan dari alumni SMA se-Jakarta di Istora Senayan, Jakarta, Minggu 10 Februari 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao. / SP/Joanito De Saojoao. )
Robertus Wardi / WM Minggu, 10 Februari 2019 | 19:55 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Beberapa waktu terakhir pasangan nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin banyak berusaha untuk menggalang dukungan dari kalangan alumni sekolah atau kampus tertentu. Langkah serupa juga coba dilakukan oleh pasangan nomor 02 Prabowo Subianto dan Sandi Uno dalam skala berbeda. Pertarungan untuk memperebutkan suara kalangan terpelajar tersebut tampak ketat, apalagi kelompok ini juga dikenal tidak terlalu loyal.

Pengamat politik Arif Susanto menilai,‎ secara normatif tidak ada yang keliru dengan dukungan yang diberikan oleh perhimpunan alumni sekolah atau perguruan tinggi tertentu kepada salah satu pasangan calon presiden dan calon presiden. Dukungan tersebut dapat keliru jika kemudian menghilangkan sama sekali sikap kritis kelompok terpelajar tersebut kepada siapa pun yang mereka dukung.

Arif Susanto melihat‎ langkah tersebut pada dasarnya serupa dengan yang dilakukan Jokowi pada 2014, ketika dia mampu menggerakkan gelombang dukungan dari kanal-kanal non-parpol. Pada sisi lain, berbeda dibandingkan sebelumnya, upaya untuk mendekati kelompok yang lebih rasional ini menjadi lebih sulit karena kalangan terdidik tersebut memiliki catatan-catatan kritis terhadap pemerintahan Jokowi.

"Angka pemilih bimbang pada kelompok ini masih tinggi. Sementara, pada kelompok yang sama, dukungan di antara mereka yang telah menyatakan pilihannya lebih banyak condong kepada Prabowo ketimbang kepada Jokowi. Dengan kecenderungan stagnasi dukungan pada kelompok lebih loyal, sebenarnya peningkatan dukungan pada kelompok ini masih terbuka bagi kedua pasangan," kata Arif, kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Minggu (10/2).

Menurut Arif, dampak dukungan berpeluang meningkat seandainya para calon datang dengan tawaran sesuai preferensi pemilih kritis dan mampu menunjukkan keunggulan program mereka dibandingkan program lawan. Aspek kemasuk-akalan cukup menentukan bagi pemilih bimbang, dan menjadi lebih kuat apabila disandingkan dengan pendekatan-pendekatan yang lebih emosional.

Arif menegaskan, dalam situasi persaingan politik yang cenderung diametrikal, kelompok yang sama juga cenderung tidak diam berhadapan dengan praktik-praktik politik tidak etis. Namun, pemihakan kritis mereka umumnya bersyarat sehingga tidak mudah menuntut loyalitas mereka. Faktanya, kelompok ini belum banyak disentuh dalam kampanye yang mestinya menyajikan adu program dan argumentasi.

"Kesempatan-kesempatan seperti debat antarkandidat atau pertemuan-pertemuan terbatas dan dialogis harus dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi detail tentang program aksi yang ditawarkan. Dengan itu, penggalangan dukungan kalangan alumni akan bersesuaian dengan kampanye dialogis dan lebih mungkin untuk meyakinkan mereka yang belum menentukan pilihannya," tutup Arif yang juga‎ analis politik pada Exposit Strategic‎.



Sumber: Suara Pembaruan