PSI Sebut Kaum Intoleran Ancam Yogya

PSI Sebut Kaum Intoleran Ancam Yogya
Ketum PSI Grace Natalie di acara Festival 11 di Graha Pradipta Jogja Expo Center, Jalan Janti, Yogyakarta, Senin (11/2) malam. ( Foto: beritasatu.com / yustinus paat )
Yustinus Paat / WM Senin, 11 Februari 2019 | 22:37 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie mengkhawatirkan munculnya kelompok intoleran yang mencoba merusak ketenangan kota Yogyakarta. Padahal, kata Grace, Yogyakarta adalah kota yang membuat orang kangen karena menyimpan identitas dalam bentuk kesenian, tradisi, dan kuliner Nusantara.

Hal ini disampaikan Grace di acara Festival 11 Yogyakarta yang bertempat di Graha Pradipta Jogja Expo Center pada Senin, (11/2). Acara dihadiri oleh sekitar 2.000 hadiri yang terdiri dari pengurus, kader, dan simpatisan PSI.

"Kita selalu ingin kembali ke kota ini karena ia menyimpan identitas kita dalam bentuk kesenian, tradisi, dan kuliner Nusantara. Itulah yang selalu mendorong kita untuk kembali 'pulang' ke Jogjakarta, seperti lagu KLA Project. Tapi sebagaimana terjadi di kota-kota lain, kelompok intoleran juga mencoba merusak ketenangan Jogja," ujar Grace.

Grace memaparkan beberapa kejadian intoleransi yang belakangan ini terjadi di Yogyakarta. Pertengahan Desember 2018 lalu, kata Grace, sebuah nisan kayu salib dipotong di Kotagede, Yogyakarta, dan prosesi doa kematian gagal dilakukan karena mendapat penolakan massa.

"Kejadian itu telah menandakan bahwa intoleransi tidak hanya mengancam kita yang masih hidup, bahkan yang sudah matipun juga menjadi sasaran," tandas Grace.

Tak hanya itu, kata Grace, kelompok intoleran juga menyasar upacara adat. Pada Oktober 2018, upacara "Sedekah Laut" sebagai ekspresi rasa syukur, yang dilaksanakan nelayan Pantai Baron dan Kukup di Tanjungsari, Gunungkidul, diserang dan diteror sekelompok orang yang menganggap upacara adat itu sesat.

"Kelompok adat, penganut kepercayaan yang ribuan tahun hidup dalam damai di bumi Nusantara, kini menjadi sasaran kebencian. Dituduh sesat, dipersekusi, dan mengalami diskriminasi sosial," ungkap Grace.

Grace menambahkan kejadian intoleran lain adalah teror yang terjadi di Gereja Santo Lidwina Bedog di Sleman. Ditemukan seorang pemuda dengan samurai yang menghancurkan isi Gereja, melukai pastor dan jemaat yang sedang khusyuk beribadah.

"Kejadian-kejadian itulah yang sedang mencerminkan persoalan besar Indonesia. PSI sesuai dengan perjuangan pokoknya yaitu melawan intoleransi akan memprioritaskan masalah ini. PSI akan menjadi sayap politik kaum nasionalis, kaum moderat, yang ingin mengembalikan toleransi di negeri ini," kata Grace



Sumber: BeritaSatu.com