180 Warga Bengkulu Terkena DBD, 2 Meninggal Dunia

180 Warga Bengkulu Terkena DBD, 2 Meninggal Dunia
Penyuluhan menyeluruh pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga dilakukan dengan memasang stiker peringatan di rumah-rumah warga. Seorang kader Ibu Memantau Jentik (Bumantik) menempelkan stiker bebas jentik nyamuk di salah satu rumah warga saat Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk di Surabaya, Jawa Timur,1 Februari 2019. Kegiatan pemantauan jentik nyamuk ke rumah-rumah warga oleh ribuan kader Bumantik tersebut guna mengantisipasi dan memberantas penyebaran wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti. ( Foto: Antara / Moch Asim )
Usmin / FMB Selasa, 12 Februari 2019 | 10:18 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Hingga pertengahan Februari 2019, ada 180 warga Bengkulu terkena penyakit demam berdarah dengue (DBD) positif. Penderita DBD sebanyak ini tersebar di 10 kabupaten dan kota di Bengkulu.

"Dari 180 kasus DBD itu, dua orang penderita di antaranya meninggal dunia, karena terlambat mendapat penangganan dari petugas medis," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, di Bengkulu, Selasa (12/2).

Ia mengatakan, kasus DBD yang terjadi di daerah ini sudah masuk kategori tinggi, tetapi belum masuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB), karena jumlah kasusnya belum mencapai dua kali lipat dari tahun lalu.

Dari 180 kasus DBD di Provinsi Bengkulu, terbanyak penderitanya di Kota Bengkulu dan Kabupaten Seluma. Pasalnya, kedua daerah ini merupakan endemik DBD di Provinsi Bengkulu, karena kesadaran warga untuk menjaga kebersihan masih rendah.

Khusus di Kota Bengkulu, masih banyak daerah kumuh, sehingga saat musim hujan nyamuk Aedes Aegypti bertelur dan berkembang baik. Hal ini menyebabkan warga setempat banyak terjangkit DBD positif, seperti yang terjadi saat ini.

Namun, Herwan Antoni tidak menjelaskan secara pasti jumlah kasus DBD di Kota Bengkulu dan Seluma. "Yang jelas, dari 180 kasus DBD, terbanyak korbanya berada di Kota Bengkulu dan Seluma. Sedangkan sisanya tersebar di delapan kabupaten lainya di Bengkulu," ujarnya.

Untuk menekan kasus DBD meningkat di Bengkulu, Dinkes melalui Kemitraan Kemenkes membagikan sebanyak 2.500 lembar kelambu secara gratis kepada masyarakat di tujuh kabupaten dan kota sebagai endimik DBD dan malaria di Bengkulu.

"Pembagian kelambu secara gratis tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit malaria dan DBD, khususnya di kalangan anak-anak, bayi dan ibu hamil. Dengan demikian, mereka akan terhindar dari ancaman penyakit malaria dan DBD, terutama pada saat musim hujan sekarang.

Upaya lain menekan kasus DBD di daerah ini, Herwan mengatakan, pihaknya secara terus menerus melakukan sosialisasi masalah kebersihan lingkungan kepada masyarakat di sejumlah daerah di Provinsi Bengkulu.

Sosialisasi tersebut juga dilakukan terhadap ibu hamil dan anak balita, karena mereka termasuk golongan rentan terserang penyakit DBD dan malaria.

"Diharapkan dengan sosialisasi ini kesadaran masyarakat meningkatkan kebersihan lingkungan meningkat, sehingga mereka terhindar dari penyakit DBD dan malaria," tambah Herwan Antoni.



CLOSE