Vegetasi Mangrove Mampu Kurangi Terjangan Tsunami

Vegetasi Mangrove Mampu Kurangi Terjangan Tsunami
Ssejumlah pelajar dari tingkat SMP hingga bangku kuliah dengan antusias mengikuti kegiatan penanaman bibit tanaman mangrove di Pulau Bidadari, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis (18/8) siang ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Ari Supriyanti Rikin / FER Kamis, 21 Februari 2019 | 15:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, menyebutkan, vegetasi di pantai seperti mangrove bisa efektif mengurangi terjangan tsunami ke darat. Sekalipun tsunami menerjang, paling tidak, wilayah berada atau tertutup vegetasi kerusakannya tidak separah daerah tanpa vegetasi.

"Di beberapa daerah yang mengalami bencana tsunami dan ada vegetasinya, bangunan masih ada yang tetap berdiri," kata Doni Monardo di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Di beberapa lokasi, lanjut Doni, seperti di Aceh, ada wilayah yang tidak terlalu parah terdampak bencana karena ada vegetasi. Demikian pula di Carita, Donggala dan Bandara Sendai Jepang. "Di Carita dan Donggala ada vegetasi mangrove. Walau pun ada pohon yang hancur, tetapi paling tidak sudah mengurangi tekanan air tsunami yang kuat," ucap Doni.

Menurut Doni, kecepatan terjangan air tsunami bisa mencapai 700 kilometer (Km) per jam dan sangat mematikan karena membawa material batu, kayu dan material lainnya. Hal itu, diibaratkan sebagai mesin pembunuh nomor satu.

Doni berharap, masyarakat sekitar pantai ikut tergerak menanam mangrove dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena Indonesia luas. Selain mangrove bisa juga ditanam pohon trembesi dan Ketapang di darat. "Daerah potensi tsunami seharusnya ada vegetasi atau pohon," tandas Doni.

Sebab, lanjut Doni, tsunami datang dalam waktu singkat, sehingga shelter atau tempat evakuasi memang harus ada. Namun ada keterbatasan dalam pembangunannya. Sehingga vegetasi menjadi salah satu kunci penting mitigasi bencana.

Masyarakat juga diminta terus menyadari potensi bahaya atau bencana di tempatnya berada. Dalam 18 tahun terakhir jumlah korban jiwa di dunia karena bencana mencapai 1.220.701 orang. Indonesia berada di peringkat tinggi korban jiwa, tahun 2018 hampir 5.000 jiwa karena bencana gempabumi dan tsunami.

Upaya mitigasi di masyarakat juga terus ditingkatkan, sehingga semakin tangguh menghadapi bencana. "Korban jiwa paling banyak terutama saat terjadi tsunami adalah wanita. Oleh karena itu para wanita perlu pembekalan agar bisa selamat," tandas Doni.



Sumber: Suara Pembaruan