Kontribusi BJ Habibie dan Sutiyoso, MRT Jadi Solusi Transportasi

Kontribusi BJ Habibie dan Sutiyoso, MRT Jadi Solusi Transportasi
Rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. ( Foto: Antara / Dhemas Reviyanto )
Heriyanto / HS Minggu, 24 Februari 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meski sudah ada berbagai transportasi massal cepat yang relatif murah seperti KRL, Transjakarta dan juga dikembangkan kereta ringan Light Rail Transit (LRT) yang seluruh jalurnya melayang, Jakarta masih terus mengembangkan sarana transportasi masal.

Sebenarnya ide awal pembangunan MRT ini sudah dicetuskan sejak tahun 1986 oleh Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie saat menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ketika itu, Habibie sedang mendalami studi dan penelitian untuk membangun MRT.

Pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Sutiyoso (1997-2007), dua studi Habibie tentang MRT menjadi landasan memulai perencanaan pembangunan transportasi massal tersebut. Akhirnya pada 2004, Bang Yos panggilan akrab Sutiyoso, mengeluarkan Keputusan Gubernur tentang Sistem Transportasi Makro untuk mendukung skenario penyediaan transportasi massal terintegrasi di Jakarta. Transportasi itu berbasis jalan dan yang berbasis rel mulai 2004 hingga 2020 sebagai landasan pembangunan transportasi Jakarta saat ini.

Sutiyoso melihat Jakarta harus memiliki banyak jenis transportasi yang memadai baik bus, berbasis rel hingga yang dijalankan di sungai (water way). Alasannya kemacetan Jakarta yang diprediksi akan terus terjadi jika tidak ada solusinya, sementara transportasi yang ada belum memenuhi kebutuhan.

Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instra) Deddy Herlambang sepakat dengan hal tersebut, menurutnya KRL yang masih berebut jalur dengan berbagai kereta jarak jauh dan banyaknya perlintasan sebidang dengan jalan raya membuat perjalanan tidak akan secara cepat memindahkan orang antar titik.

"Moda transportasi harus banyak dan steril atau eksklusif sehingga terpenuhinya kebutuhan masyarakat untuk transportasi yang cepat," kata Deddy.

Baca : Terowongan Pipa, MRT Bermula di London dan Meluas ke Jepang

Sementara kereta layang LRT masih terus dikembangkan, saat bersamaan DKI mengembangkan moda transportasi berbasis rel lainnya yakni Moda Raya Terpadu.

Dengan skema pinjaman lunak dari Jepang (JICA), 10 Oktober 2013, pengerjaan proyek Moda Raya Terpadu atau MRT ini resmi mulai digarap dan fase I Lebak Bulus-Bundaran HI (16 km) akan beroperasi komersial pada 24-31 Maret 2019 serta direncanakan satu harinya akan beroperasi dalam 20 jam (05.00 WIB hingga 24.00 WIB).

MRT ini menggunakan kereta berkinerja tinggi, digerakkan secara elektrik, beroperasi di jalur eksklusif tanpa jalur persilangan dengan jalan, dengan peron stasiun besar dan nyaman yang secara internasional disebut dengan istilah "Metro".

Dengan kecepatan maksimum hingga 110 km per jam, jarak tempuh dari Lebakbulus menuju Dukuh Atas yang biasanya ditempuh 1,5 jam akan menjadi sekitar 28 menit.

Tarif moda transportasi ini-pun cukup kompetitif dengan harga yang ditawarkan Rp8.500 dengan jarak tempuh per 10 km dan antar stasiun sekitar Rp1.000 dengan perhitungan kasar sekitar Rp12 ribu dengan jarak terjauh fase I. "Nanti, Lebak Bulus-Bundaran HI dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dengan harga yang kompetitif," ucap Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar.


Pembangunan jaringan MRT di Jakarta yang disebut sebagai "Ratangga", direncanakan terbagi menjadi dua koridor, yakni koridor satu dengan jalur Utara-Selatan, terbentang mulai dari Lebak Bulus hingga Kota Tua. Lalu, koridor dua dengan jalur Timur ke Barat, terbentang mulai dari Balaraja hingga Cikarang.

Baca : Atasi Kemacetan, MRT Menyusul KRL dan Transjakarta

"Ratangga yang berasal dari bahasa Sansekerta dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular adalah kereta perang yang identik dengan kekuatan dan pejuang. Semoga dengan kehadiran dan beroperasinya Ratangga nanti, tidak hanya meningkatkan mobilitas, namun juga memberikan manfaat tambahan," ujar Anies.

Dalam perjalanannya nanti, Moda Raya Terpadu dan LRT akan terintegrasi dengan program Jak (Jakarta) Lingko (jaringan sawah adat terintegrasi di NTT) yang mengintegrasikan moda berbasis jalan raya (Transjakarta dan angkutan kecil).

Integrasi ini, mulai dari infrastruktur yang akan saling bertemu di titik yang disebut dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD), hingga pengelolaan tarif dan manajemennya melalui pembentukan perusahaan gabungan (joint venture) yang masih dalam tahap pembahasan.

Kini, MRT Jakarta sudah mulai digelar. Moda Raya Terpadu sebagai simbol baru transportasi modern sudah hadir untuk menjadi "peluru" baru transportasi ibu kota menambah kekuatan KRL dan Transjakarta.
Selain memecahkan persoalan kemacetan di Jakarta serta meningkatkan produktifitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya, MRT selajutnya diharapkan dapat memberi akses transportasi modern ke wilayah metropolitan lainnya yaitu Bodetabek.

 



Sumber: ANTARA