KNKT Tawarkan Bantuan Investigasi Ethiopian Airlines

KNKT Tawarkan Bantuan Investigasi Ethiopian Airlines
Pesawat Ethiopian Airlines. ( Foto: Facebook / Ethiopian Airlines )
/ WBP Selasa, 12 Maret 2019 | 19:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menawarkan bantuan investigasi kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines nomor penerbangan ET 302 menyusul adanya korban Warga Negara Indonesia (WNI) dalam kecelakaan tersebut.

“Kami juga minta kirim email ke Ethiopian karena ada WNI satu yang meninggal, kita harus menjadi expert, di sana kita bisa meninjau lokasi, diskusi, kita juga cover mereka kalau mereka butuh bantuan, kami siap bantu mereka,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat ditemui di membuka Indonesia Aviation Training & Education Conference (IATEC) 2019 di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Meski ada kemiripan kecelakaan dengan pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610, Soerjanto menegaskan bukan berarti penyebabnya sama. Menurut Soerjanto Tjahjono, diperlukan investigasi menyeluruh.

“Yang jelas untuk ketinggian, JT 610 itu kan sekitr 5.000 kaki, kalau ini 800-1.000 kaki. Ketinggian bandara 7.200 kaki. Kalau Ethiopian 8.000 kaki, bandaranya 7.200 berarti ini baru lima menit. Kami belum tahu karena pada ketinggian tersebut kasusnya apa belum tahu. Kalau disamakan JT 610 ketinggiannya kan berbeda,” kata Soerjanto Tjahjono.

Ethiopian Airlines ET-AVJ jatuh dalam penerbangan ke Nairobi dan mengakibatkan sebanyak 157 orang di dalamnya tewas pada Minggu (10/3/2019). Pesawat ET-AVJ diketahui berjenis Boeing 737 MAX 8 atau sama dengan pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di Laut Jawa dan menewaskan 189 orang di dalamnya.

Terdapat satu WNI yang tewas dalam kecelakaan tersebut, yaitu petugas PBB yang bekerja di Roma, Italia.

Akibat kecelakaan tersebut, sejumlah negara melarang pengoperasian Boeing 737 Max 8, seperti Tiongkok dan Singapura, sementara Indonesia sudah menghentikan sementara 11 pesawat sejenis baik yang dimiliki Lion Air maupun Garuda Indonesia.



Sumber: ANTARA