Faisol Reza: Jika Merasa Difitnah, Prabowo Harus Bongkar Penculikan '98 Sekarang

Faisol Reza: Jika Merasa Difitnah, Prabowo Harus Bongkar Penculikan '98 Sekarang
Ilustrasi Prabowo Subianto disambut massa. ( Foto: ANTARA FOTO / Anis Efizudin )
Fana Suparman / JAS Kamis, 14 Maret 2019 | 10:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wasekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Faisol Reza menantang calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto untuk segera membongkar peristiwa pelanggaran HAM 1998.

Menurutnya, jika Prabowo merasa tersudut dan difitnah atas pelanggaran HAM masa lalu, termasuk penculikan sejumlah aktivis pro demokrasi 1998, saat ini merupakan momen yang tepat bagi Ketua Umum Partai Gerindra tersebut membantah dan membuka peristiwa kelam tersebut.

"Kalau pak Prabowo berniat serius, saya kira sekarang peluangnya sebelum pemilihan 17 April 2019. Kalau merasa selama ini disudutkan dan dijadikan sasaran fitnah bongkar sekalian," kata Faisol usai konferensi pers Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (Ikohi) di Hotel Grand Cemara, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Faisol merupakan salah seorang aktivis korban penculikan 98 yang dipulangkan. Selain Faisol terdapat delapan aktivis lainnya yang dipulangkan, yakni Mugiyanto, Aan Rusdianto, Rahardjo Waluyo Djati, Nezar Patria, Andi Arief, Haryanto Taslam (almarhum), Desmond J. Mahesa, dan Pius Lustrilanang.

Selain sembilan korban selamat, terdapat satu korban penculikan yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dan 13 aktivis lainnya masih hilang. Di antara sembilan korban selamat, Desmond dan Pius saat ini bergabung dengan Partai Gerindra besutan Prabowo.

Beberapa waktu lalu, Desmond meyakini Prabowo bakal membongkar kasus penculikan jika terpilih sebagai Presiden dalam Pilpres 2019. Keyakinan tersebut salah satunya peristiwa kelam tersebut telah menyandera Prabowo yang kerap menyerangnya dalam setiap langkah politiknya.

Serangan tersebut salah satunya dilancarkan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar yang memberi kesaksian mengenai pemecatan Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran. Agum menegaskan, pemecatan ini dilakukan lantaran Prabowo terbukti melakukan pelanggaran HAM berat.

Pemberhentian ini ditandatangani seluruh anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP), termasuk Agum Gumelar dan Susilo Bambang Yudhoyono yang saat ini adalah Ketua Umum Partai Demokrat.

Prabowo, kata Faisol, seharusnya membeberkan yang diketahuinya mengenai penculikan aktivis 98 dan membantah pernyataan Agum Gumelar jika merasa menjadi korban fitnah dan disudutkan. Menurut Faisol, hal ini bisa dilakukan Prabowo tanpa harus menunggu terpilih.

"Jika menganggap yang disampaikan oleh Pak Agum tidak benar, Prabowo harus mengungkapkan yang sebenarnya. Siapa yang melakukan, di mana, dan bagaimana korban yang selama ini hilang. Sehingga lebih jelas. Kami senang sekali, keluarga korban senang sekali. Intinya adalah menemukan di mana keluarga mereka. Tidak perlu menunggu (jadi presiden), kalau Pak Prabowo punya niat baik, serius menyatakan bahwa beliau sebagai korban fitnah dan disudutkan. Mungkin ya mungkin dengan itu bisa memenangkan Pilpres," katanya.

Faisol meyakini korban maupun keluarga korban bakal menyambut baik langkah Prabowo tersebut. Faisol dan keluarga korban akan mendengar dengan seksama dan mencari korban penculikan yang masih hilang sesuai pernyataan Prabowo nantinya.

"Saya ingin sekali ada waktu untuk bertemu Prabowo untuk menyampaikan, meminta dan menanyakan secara langsung nasib dari teman-teman kami. Kalau memang Prabowo katakan bukan dia, tolong sebutkan siapa yang melakukan," katanya.

Dalam kesempatan ini, Faisol membantah pernyataan politikus PKS, Mardani Ali Sera yang menyebut Prabowo terlibat kasus penculikan aktivis pada 1998 merupakan kabar bohong alias hoax. Faisol menyatakan, pernyataan Mardani yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu merupakan upaya untuk menghapus sejarah kelam yang dialaminya dan para korban korban penculikan 98 lainnya.

"Kalau memang dikatakan bahwa Prabowo tidak pernah menculik, saya kira apa yang kita alami selama ini semuanya juga hoax. Saya disiksa, Aan disiksa, Andi Arief juga disekap bersama saya. Itu semua hoax. Jadi terima kasih kepada Pak Mardani Ali yang mencoba menghapus sejarah kita semua, hidup kita semua, ibu saya yang ceritakan. Apa yang mereka semua ceritakan juga hoax. Mudah-mudahan dia (Mardani) mendapatkan ampunan dari Tuhan, yang sudah menganggap semua cerita kami hoax," katanya.

Faisol menegaskan berbagai bukti keterlibatan Prabowo dalam kasus penculikan aktivis sudah terang dan nyata. Keputusan DKP yang memecat Prabowo, hasil penyelidikan Pro Justicia Komnas HAM dan testimoni korban selamat dan keluarga korban sudah cukup membuktikan adanya peristiwa tersebut.

"Jelas dan terang tidak perlu dicari-cari lagi. Dari semua peristiwa dan testimoni yang disampaikan sejak 1998, bukan disampaikan oleh kami saja, tapi juga disampaikan oleh Komnas HAM, disampaikan juga oleh DKP, disampaikan juga oleh Panglima ABRI waktu itu, bahwa sudah terjadi pelanggaran HAM dan peculikan aktivis yang pelakunya dikeluarkan dari kesatuan ABRI waktu itu. Kita semua tahu siapa," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan