Tingkatkan Daya Saing, Pemerintah Gencarkan Pembangunan SDM

Tingkatkan Daya Saing, Pemerintah Gencarkan Pembangunan SDM
Diskusi Media Forum Merdeka Barat (Dismed FMB) 9 dengan tema "Membangun Karakter dan Mental Indonesia" di Ruang Rapat Utama, Kantor Staf Presiden (KSP), Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis (14/3/2018). ( Foto: istimewa )
Chairul Fikri / CAH Jumat, 15 Maret 2019 | 23:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini tahun 2019 revolusi industri memasuki 4.0 dengan basis teknologi digital. Percepatannya terjadi di seluruh negara di dunia. Tak terkecuali bagi Indonesia. Namun, sejauh mana Indonesia mampu mengikuti percepatan revolusi industri 4.0 yang mampu merambah hampir di seluruh sendi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Saat ini yang harus dilakukan adalah bagaimana Indonesia bisa membalikkan keadaan dengan fokus meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sehingga bisa menjadi syarat dasar Indonesia untuk bisa memimpin di kancah global. Demikian disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hilmar Farid dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (Dismed FMB) 9 dengan tema "Membangun Karakter dan Mental Indonesia" di Ruang Rapat Utama, Kantor Staf Presiden (KSP), Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis (14/3/2018).

"Yang pasti fokus pemerintahan yang dipimpin oleh bapak Presiden Joko Widodo saat ini adalah bagaimana masyarakat Indonesia bisa berubah dan mengikuti perkembangan zaman. Itu gunanya revolusi mental yang digaungkan oleh pemerintah lantaran masyarakat Indonesia sudah sangat tertinggal jauh dari masyarakat bangsa lain. Oleh sebab itu sekarang kita berusaha untuk mengejarnya," ujar Hilmar.

Caranya dikatakan Hilmar yakni dengan memberikan pemahaman yang baik kepada seluruh masyarakat untuk bisa berkembang dan memulai dengan mempercayakan hal ini pada generasi muda. 

"Jadi gak hanya insfrastrukturnya saja yang dibenahi tapi masyajrakatnya juga di benahi bila kita tak ingin tertinggal dari bangsa lain," ungkap Hilmar Farid

Ditambahkan Hilmar, revolusi karakter menjadi jantung dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Untuk itu, harus terus ditumbuh kembangkan di tengah masyarakat. Namun hal itu juga harus melihat kepentingan daerah yang masyarakatnya punya adat istiadat yang kental. Dimana budaya tak boleh tercabut dari akar-nya meski perubahan diera digital ini.

"Gerakan revolusi mental merupakan gerakan yang fenomenal. Dalam kehidupan sehari-hari telah banyak terjadi perubahan. Salah satu contohnya yang terjadi di commutter line (kereta api jabodetabek) di mana saat ini sudah dinilai lebih baik dari sebelumnya. Namun begitu nilai budaya tidak boleh kita kesampingkan bila kita berubah. Nilai itu yang harus tetap ada dan mengontrol laju kemajuan digital sekaran," jelas Hilmar.



Sumber: BeritaSatu.com