Gubernur Jatim Minta Polisi Dalami Motif "Kiamat Sudah Dekat"

Gubernur Jatim Minta Polisi Dalami Motif
Khofifah Indar Parawansa. ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / FMB Sabtu, 16 Maret 2019 | 10:09 WIB

Ponorogo, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku telah mengambil langkah-langkah penanganan menyikapi kepindahan (eksodus) 16 kepala keluarga atau 52 jiwa penduduk Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo ke Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang karena termakan isu hari kiamat. Ia sudah minta Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemag) Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Malang untuk melokalisir warga Badegan yang terlanjur pindah ke Kasembon guna memudahkan komunikasi pembinaan.

“Saya sudah minta Kemag di Ponorogo dan Kabupaten Malang melokalisir dan dilakukan pembinaan. Dengan Pak Kapolda Jatim Irjen Pol Lucky Hermawan, saya juga sudah minta (melalui Polres Ponorogo dan Malang) untuk menyelidiki dan mendalami isu tersebut, apakah ada unsur melawan hukum,” ujar Khofifah yang dikonfirmasi, Jumat (15/3/2019).

Penelusuran tersebut dinilai Gubernur Jatim sangat penting karena ada di antara mereka yang eksodus itu menjual aset keluarganya dengan murah yang kemudian hasil penjualanya diserahkan ke pondok pesantren (Ponpes) di Kasembon, Kabupaten Malang.

Gubernur Jatim yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama itu meminta kepada seluruh warga Jatim, utamanya di Ponorogo dan Malang untuk tetap menjaga suasana kondusif. “Saya sudah instruksikan kepada semua stakeholder agar menjaga situasi dan kondisi lingkungan masyarakat tetap terkendali dan kondusif,” tandas Khofifah sambil membenarkan, puluhan warga yang eksodus itu adalah para jemaah Thoriqoh Akmaliyah ash-Sholihiyah yang ada di Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni meminta Pemprov Jatim, MUI Jatim dan Polda Jatim turun tangan terkait dengan kasus doktrin kiamat dari Katimun, pimpinan jemaah thoriqoh di Badegan  yang dikenal sebagai ‘santri’ dari Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in di Kasembon, Kabupaten Malang. Katimun mendirikan kantor cabang jemaah thoriqoh itu di Badegan. Di kegiatan thoriqoh tersebut, sedikitnya beranggotakan 500 jemaah yang aktif dari Badegan. Dari 16 kepala keluarga itu belum semuanya pindah secara administratif karena mereka hanya menjual asetnya untuk bekal ke Kasembon, Malang dan belum mengurus surat pindah ke kelurahan Watubonang.

Sementara itu Polda Jatim dan Polres Ponorogo mulai menelusuri ajaran Katimun sebagai penyebar doktrin kiamat yang sudah dekat. Dari ratusan orang (jemaah) pengikutnya mayoritas asal Ponorogo dan sebagian lagi Wonogiri, diajarkan zikir menghadapi hari kiamat yang semakin dekat. Selanjutnya mereka diminta untuk berlindung ke Ponpes Miflahul Falahil Mubtadi'in di Kasembon, Kabupaten Malang. Ponpes yang menjadi tempat menimba ilmu agama guru Katimun tersebut disebutkan sebagai ibarat ‘perahu Nabi Nuh’ yang akan menyelamatkan mereka di hari kiamat yang sudah semakin dekat.

Sesuai pengakuan 16 kepala keluarga asal Badegan yang terlanjur eksodus ke Kesamben menyebutkan, bahwa sesuai arahan gurunya (Katimun) mereka menjual seluruh aset miliknya untuk biaya hidup di Ponpes Kesamben. Prinsip ajaran Katimun adalah; ‘Mulyo Sugih Ampuh Asal Sendiko Dawuh’ (Menjadi terhormat, kaya, hebat jika patuh pada perintah). Ajaran guru Katimun inilah yang mengajarkan berlindung dari hari kiamat dengan cara hijrah ke Kasembon, Kabupaten Malang.

Jemaah Jember
Ajaran doktrin hari kiamat sudah dekat diduga juga meluas di tengah-tengah penduduk di Kabupaten Jember, Jatim. Tercatat ada tujuh keluarga jemaah thoriqoh sejak beberapa waktu yang lalu hijrah ke Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in, di Kasembon, Kabupaten Malang. Sama dengan 16 keluarga asal Watubonang, Badegan, Ponorogo, mereka yang dari Jember juga menjual seluruh asetnya kemudian eksodus ke Kasembon.

Aparat Kodim dan Polres Jember, dibantu sejumlah tokoh masyarakat, Kamis siang baru lalu ‘terpaksa’ melakukan pemeriksaan satu per satu rumah yang ditinggal para penghuninya eksodus ke Kasembon, Malang. Dari dalam rumah itu ditemukan sejumlah stiker, kalender dan tongkat bertuliskan Miftahul Falahil Muftadi’in, sama dengan nama onpes di Kasembon, Kabupaten Malang. “Kini masih sedang dilakukan pendalaman,” ujar sumber SP di Polres Jember.

Sementara itu Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri, Ponorogo, Asfin Abdurrahman yang dikonfirmasi terpisah terkait ajaran Katimun, mengatakan, paham itu yang membuat para pengikutnya rela menjalankan apa yang diperintahkan Katimun. Kepatuhan para pengikut (jamaah) tersebut terjadi karena pemahaman agama mereka yang sepotong-potong, hingga apapun perintah guru atau pimpinan komunitasnya, harus mereka lakukan, meski tidak rasional.



Sumber: Suara Pembaruan