Indonesia Timur Waspadai Hujan Lebat

Indonesia Timur Waspadai Hujan Lebat
Banjir di Sentani, Kabupaten Jayapura. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Senin, 18 Maret 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, potensi bencana hidrometeorologi masih harus diwaspadai. Sebab, peluang hujan di wilayah timur Indonesia masih bisa berlangsung tiga hari ke depan, termasuk di wilayah Sentani, Jayapura, Papua, yang kemarin dilanda banjir bandang.

Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo, saat dihubungi Beritasatu, Senin (18/3). Terkait banjir di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, BMKG mencatat data curah hujan dari sembilan stasiun pengamatan cuaca di wilayah tersebut didominasi hujan sangat lebat.

Hujan sangat lebat tercatat di enam stasiun cuaca seperti di ARG Dok II 207 milimeter (mm) per hari, stage of Angkasa 248,5 mm per hari, dan AWS Pelabuhan Jayapura 180,4 mm per hari. Sementara itu tiga stasiun pengamatan lainnya hanya mencatat hujan kategori sedang dengan intensitas 24,4 mm per hari hingga 42 mm per hari.

Prabowo menjelaskan, berdasarkan peta sea surface temperature (SST) atau suhu muka laut, pada 15 Maret 2019 suhu terpantau hangat yaitu berkisar antara 26-30 °C dengan anomali SST positif sehingga mengakibatkan suplai uap air cukup besar.
Sedangkan berdasarkan pantauan citra satelit cuaca, terdapat awan-awan hujan (awan konvektif kumulonimbus) di wilayah Jayapura bagian utara, Jayapura selatan, Abepura, Heram, Sentani dan sekitarnya yang menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.

"Untuk wilayah lainnya hingga 19 Maret 2019 harus diwaspadai hujan lebat dan angin kencang," ungkapnya.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan mengidentifikasi lebih lanjut penyebab pasti terjadinya bencana tersebut.

Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai KLHK, M Saparis Sudaryanto mengatakan, banjir di wilayah daerah aliran sungai Sentani meliputi Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Heram dan Sentani. Luas daerah tangkapan air banjir mencapai 15.199,83 hektare (ha) berada pada hulu daerah aliran sungai Sentani di atas waduk Sentani.

Dari data sementara yang dihimpun, penyebab banjir di antaranya adalah curah hujan ekstrem 248,5 mm per hari serta adanya longsor karena proses alami di wilayah timur Sentani yang membentuk bendung alami yang kemudian jebol ketika hujan ekstrem.

Selain itu, terdapat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering campuran pada daerah tangkapan air banjir seluas 2.415 ha.

"Lokasi titik banjir juga merupakan dataran aluvial dan berdekatan dengan lereng kaki sehingga secara geomorfologis merupakan sistem lahan yang tergenang," kata Saparis.

Ia menambahkan, upaya yang telah dilakukan adalah merehabilitasi hutan dan lahan tahun 2014-2016 seluas 710,7 ha pada daerah tangkapan air banjir.

Dari kondisi ini, KLHK merekomendasikan upaya mengembalikan kawasan hutan sesuai dengan fungsinya, melakukan review tata ruang berdasarkan pengurangan risiko bencana, serta mengembangkan skema adaptasi di titik banjir.

"Ke depan kita akan beri pengetahuan agroforestri di sana, sebagai win win solution-nya," ucapnya.



Sumber: Suara Pembaruan