Tiga Cara untuk Mengangkat Fondasi Budaya Indonesia

Tiga Cara untuk Mengangkat Fondasi Budaya Indonesia
Sandiaga Uno. ( Foto: Antara )
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 18 Maret 2019 | 15:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Isu sosial dan kebudayaan menjadi satu dari empat tema yang diangkat pada malam debat calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Ma'ruf Amin dan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno, Minggu malam (17/3/2019).

Para cawapres dihadapkan pada pertanyaan soal kebudayaan yang belum menjadi haluan pembangunan nasional. Kebijakan dan anggarannya dianggap terpinggirkan. Pada kesempatan itu, keduanya calon diminta memaparkan kebijakan terkait budaya yang terpinggirkan.

Menurut budayawan, Mohammad Sobary, saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (18/3/2019), setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperkuat fondasi bangsa .

Hal yang pertama adalah pendidikan kurikulum kebudayaan, berfokus pada pengembangan kurikulum pendidikan yang mengajarkan bahasa, kesustraan, dan pribahasa.

“Kesustraan dari novel, puisi, dan esai sebagai cermin dari kebudayaan kita mengandung kebudayaan yang memperhalus budi pekerti manusia dan ekspresi politik. Ekspresi politik bisa lebih halus, seandainya ia belajar sastra,” jelas  Sobary saat  dihubungi  Senin (18/3/2019).

Sedangkan peribahasa, bisa memperkokoh persatuan dan kesatuan Indonesia, yang terdiri dari beragam kelompok etnis, suku, agama yang berbeda-beda.

"Pendidikan ini penting untuk jadi orientasi pemerintah di masa depan,” ungkapnya.

Selain dari sisi pendidikan, Sobary juga menjelaskan harus adanya kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong pengembangan kebudayaan dengan cara membangun budaya politik, sehingga terlahirlah masyarakat madani atau dikenal dengan civil society.

"Ke depan, kebudayaan politik harus ditata sedemikian rupa. Kebudayaan politik yang tidak mencaci maki, sebar kebohongan, dan fitnah menggunakan keagaman dan semangat agama. Ini proyek besar, mulai saja dari ini, proyek meng-Indonesiakan masyarakat. Ini bisa dibuat kebijakan tapi tidak yakin bisa dilakukan,” jelasnya.

Kemudian yang terakhir adalah mendukung para pelaku seni untuk membuat maha karya yang bisa menjadi senjata penguatan, pengenalan, dan penerapan budaya Indonesia yang adiluhur kepada masyarakat luas.

"Memberikan pendanaan yang cukup untuk pembuatan film, karya sastra, dan seni pertunjukan lainnya, agar tetap lestari, maju dan terus berkembang,” terangnya.

Dari persoalan ini pun Sobary mengaku kedua cawapres telah memahami dengan baik saat debat semalam. Jawabannya pun jika disatukan dengan benar bisa menjadi jalan dari berbagai persoalan kebudayaan yang ada.

Dana Abadi
Namun, ia menilai cawapres nomor urut 01 dinilai lebih memahami kondisi kebudayaan yang ada di Indonesia.

Ma’ruf Amin awalnya menilai, upaya yang bisa dilakukan demi menjaga kebudayaan adalah dengan melakukan konservasi, pelestarian, dan juga globalisasi budaya lokal ke berbagai negara dunia supaya lebih dikenal. Upaya tersebut diikuti pula dengan anggaran dan dana abadi kebudayaan demi menjadi budaya nasional dapat terus berkembang.

"Kita akan menyiapkan dana abadi kebudayaan supaya budaya tetap berkembang, dana abadi pendidikan dan riset supaya budaya bisa berkembang dan kita dorong pengembangan budaya melalui ekonomi kreatif," ungkap Ma'ruf.

Berdasarkan jawaban tersebut, konservasi dan anggaran dana abadi adalah hal yang ia garis bawahi. Konservasi yang diungkapkan Ma’ruf Amin terasa kurang pas dengan situasi dan kondisi persoalan kebudayaan saat ini.

"Konservasi itu mengamankan apa yang sudah terjadi, pengalaman yang sudah lewat. Yang penting saat ini adalah pengembangan kebudayaan untuk program pembangunan. Sedangkan dana abadi bisa dijalankan kalau negara memiliki kemampuan finansial, dan hal itu sangat bagus untuk mengembangkan kebudayaan,” jelasnya.

Sedangkan Sandiaga menilai, pemerintah yang berpihak pada pembangunan sosial budaya bisa mengaitkannya ke banyak hal lain yang bisa mengembangkan perekonomian negara seperti dunia usaha dan universitas. Di universitas juga perlu ditingkatkan kurikulum yang mengarahkan minat untuk mencintai kebudayaan.

"Saya yakin dari sisi kebudayaan akan muncul peluang ekonomi berbasis kebudayaan yang akan menciptakan begitu banyak pekerjaan," kata dia lagi.

Kemudian, Sandiaga juga berkomentar dengan menegaskan bahwa dalam hal kebudayaan, yang dilihat bukan hanya anggaran dan infrastruktur melainkan juga kolaborasi.

Jawaban tersebut mendapat apresiasi dari Sobary, tetapi sayangnya Sandiaga tidak mendeskripsikan secara jelas, kurikulum apa saja yang akan ditambah atau diubah. Sedangkan kata ‘kolaborasi’ juga mendapat kritikan dari Sobary, karena yang dibutuhkan kebudayaan Indonesia dari pemerintah adalah sebuah koordinasi yang baik.

"Koordinasi, itu pengelolaan bujet untuk satu proyek. Dalam sebuah pengelolaan, harus jelas ditulis pendanaan, serta pembagiannya. Jangan sampai ada pendanaan yang double, dan lainnya tidak mendapat bagian yang sesuai,” terangnya.



Sumber: Suara Pembaruan